Bicara akan perhelatan pameran seni dua tahunan atau biennale, Indonesia pun juga memiliki ajang serupa, yang bedanya digelar di beberapa kota, seperti di Jakarta (yang tertua sejak tahun 1970-an), lalu Yogyakarta, Makassar, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera.
Meski telah digelar di beberapa kota, Eddy menilai biennale yang digelar itu belumlah setara dengan ajang biennale tingkat internasional, atau masih berupa pameran seni biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kultur di Yogyakarta sudah terbentuk, sehingga sangat cocok untuk diadakan biennale. Meski mungkin gaungnya tidak bakal begitu hebat, karena masalah regulasi dan campur tangan pemerintah. Kita tahu pemerintah kita kalau sama seni ya jauh jika dibanding Singapura," ungkap lulusan Desain Grafis Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu.
Eddy menganggap perhelatan biennale di Singapura sudah sangat matang dan apik, baik dari segi kampanye serta kepedulian pemerintah dan masyarakat. Ia menuturkan, di Negeri Singa, biennale memang dianggap sebagai acara seni yang harus dirayakan.
"Kalau di Indonesia itu biennale kan hanya nama, seperti acara seni yang lain, tidak heboh. Bagi saya pribadi sebagai seniman, bukannya mau sombong, tapi misal saya tidak ikut biennale di Indonesia itu tidak masalah. Kalau ikut juga tidak bangga sekali. Karena belum ada yang terbukti bahwa biennale di Indonesia benar-benar kuat seperti di Singapura," katanya.
'The Journey of Panji', karya Eddy Susanto di Singapore Biennale 2016. (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia) |
"Kita jam karet kan sudah umum, sehingga deadline tidak menakutkan. Tapi kalau di Singapura, mereka deadline harus tepat. Kebetulan latar belakang saya desain grafis, jadi kalau ada jadwal deadline sekian biasanya saya tepati, makanya pihak Singapore Biennale juga nyaman dalam mengundang dan bekerjasama, mereka teratur dan sesuai," ujarnya.
Ia mengimbuhkan, "Kami memang tidak melihat Singapura atau negara mana, tapi memang semua yang kami kerjakan seperti itu, karena kami setiap tahun harus ada proyek seni yang kami kerjakan, jadi kami juga harus punya jadwal sendiri. Memudahkan dan lebih enak bekerja seperti itu, karena dari dulu desain grafis harus menepati target dari klien."
Biennale di Indonesia
Tidak hanya membandingkan gelaran biennale Indonesia dengan di luar negeri, menurut Eddy ajang pameran seni rupa biennale pun juga kadang tidak dapat dibedakan dari ajang pameran serupa, seperti Art Stage Jakarta, Bazaar Art Jakarta, dan atau Art Jog, baik dari segi penyusunan acara maupun skala karya yang ditampilkan.
"Indonesia belum siap dan belum bisa membedakan mana yang biennale, art fair, atau pameran biasa. Sepertinya hanya beda nama saja. Makanya, biennale di sini kalah jauh dengan Art Jog di Yogyakarta, Art Stage Jakarta, dan Bazaar Art Jakarta," katanya.
Ia berpendapat, publik lebih antusias untuk datang ke acara-acara tersebut dibandingkan biennale di Indonesia karena nuansa biennale yang masih sangat biasa dan tidak spektakuler. Sementara, Art Jog, Art Stage, dan Bazaar Art mampu menarik lebih banyak pengunjung, bahkan tak jarang dari mereka merupakan penikmat seni dari luar negeri. (res/rah)
'The Journey of Panji', karya Eddy Susanto di Singapore Biennale 2016. (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia)