Terdiri dari vokalis Imam Wisaya Suraturna, gitaris Safarilhaj Febrian, penggebuk drum Yopi Santosa Sasmita, dan kibordis Enrico Prabowo, band yang dibentuk di Kuala Lumpur, Malaysia pada 2005 silam ini mengusung genre indie-rock.
Kepada CNNIndonesia.com, Imam bercerita bahwa ini bukan kali pertama Lightcraft mendaftar SXSW. Menurutnya, band yang digawanginya itu telah mencoba untuk menembus seleksi ketat panitia sejak 2011.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Selain mengembangkan diri kita sebagai sebuah band, tujuan utama kami adalah untuk membawa nama Indonesia. Kami ingin merepresentasikan ke dunia luar bahwa musik Indonesia tidak kalah bagus dengan negara lain,” katanya.
Bukan berlebihan, Lightcraft memang sudah sering memamerkan musik melankolisnya ke berbagai negara. Dalam tiga tahun terakhir, band ini telah menginjakkan kaki ke India, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Inggris, Taiwan, Kanada, dan Amerika Serikat.
Lightcraft juga pernah mencicipi festival musik internasional berskala besar, termasuk Baybeats Music Festival 2014, Java Soundsfair 2014, Saarang 2015, Canadian Music Week 2015, Music Matters Live 2015, Zandari Festa 2015, Rocking The Region Canadian Music Week 2016, dan Liverpool Sound City 2016.
Awalnya, Lightcraft terbentuk karena Imam, Yopi, dan Fari berkuliah bersama di Kuala Lumpur, Malaysia. Sejak saat itu, band ini sudah menelurkan The Modern Seasons EP (2006), Losing Northern Lights (2008), Colours of Joy (2014), Love Songs & Lullabies (2015), dan Another Life (2016).
Selain Lightcraft, dua band indie lain yang akan tampil di Festival SXSW tahun ini yakni The Trees and The Wild dan Kimokal.
Ini bukan pertama kalinya Indonesia mengirimkan perwakilan musisi ke SXSW. Sebelumnya, festival ini pernah mengundang band indie White Shoes and The Couples Company, The Sigit, dan Shaggydog tahun lalu. (rah)