Di samping itu, ia juga mengungkapkan keinginannya untuk membantu dan mendampingi mereka yang menderita kekerasan seksual di masa lampau tersebut.
Ungkapan itu disampaikan Jolie selang tak lama dari promo film besutannya untuk Kamboja pada akhir pekan lalu di Siem Reap, Angkor Wat, seperti dilansir The Guardian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga saat ini belum diketahui jumlah pasti berapa korban, baik wanita maupun pria, yang dipaksa menikah oleh Khmer Merah sebagai bagian dari rencana penghancuraan struktur keluarga murni dan membangun populasi baru di Kamboja.
Kebanyakan di antara mereka dipaksa di bawah senjata dan ancaman kematian. Baru dalam beberapa waktu terakhir, testimoni dari para penyintas, pria dan wanita terungkap dan mulai mengungkapkan cerita mereka. Banyak di antaranya yang baru mau bicara dalam forum yang diusung NGO dengan harapan membawa kasus ini menjadi lebih terbuka dan dipahami.
Gelaran pada Selasa itu bertujuan untuk menjembatani Jolie dengan komunitas yang bekerja untuk membuat terang kasus yang menjadi sejarah kelam di Kamboja ini. Ia hadir untuk menunjukkan dirinya 'ada untuk mendengarkan'.
"Beri tahu saya apa yang dapat saya lakukan untuk membantu apa yang telah kalian lakukan, dan bersuara untuk itu," ungkapnya lagi.
Thida Kus, direktur eksekutif NGO Silaka yang mempromosikan agenda persamaan gender mengatakan upaya itu menjadi sangat penting untuk memberi perhatian lebih pada keberpihakan pada perempuan.
"Publik masih mendiskriminasi perempuan dan kadang melihat mereka sebagai objek seksual, padahal wanita juga manusia," ujarnya. (rah)