Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) belum lama ini meluncurkan sebuah program Bekraf Financial Club (BFC) yang menjembatani para pelaku industri ekonomi kreatif dengan lembaga perbankan agar keduanya bisa saling memahami dan bekerjasama, khususnya dalam bidang permodalan.
Produser eksekutif Rapi Films Sunil Samtani berpandangan, metode permodalan yang ingin mulai diterapkan Bekraf ini sejatinya hampir mirip dengan apa yang sudah berjalan di industri perfilman Hollywood selama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Sumber-sumber Pendanaan Film |
Selain completion bond, Sunil pun mengungkapkan bahwa industri perfilman Hollywood juga memiliki film finance yang merupakan turunan proyek keuangan, yang berarti sebuah film menghasilkan pembiayaan sendiri ketimbang mencari dana dari sumber eksternal untuk membayar investor.
Keuntungan dari penjualan film tersebut, imbuh Sunil, akan dibagi berdasarkan minimum interest yang telah disepakati kedua belah pihak. Menurutnya, hal itu merupakan cara yang efektif untuk mendorong rumah produksi membuat film-film berkualitas tanpa perlu terlalu pusing memikirkan tentang permodalan.
Karenanya, Sunil mendukung penuh upaya Bekraf untuk mempermudah akses permodalan bagi para sineas, baik yang masih merintis maupun yang sudah besar, dengan menggandeng pihak perbankan. Menurutnya, perbankan harus memahami bagaimana sistem pembiayaan film dan potensi perfilman Indonesia.
"Memang belum tentu semua film jalan, karena tidak ada formula khusus bagaimana sebuah film itu bisa sukses. Namun, minimal kita bisa belajar mengurangi risiko dalam membuat film. Misal, ambil dana Rp5 miliar, berarti harus memilih pemain bagus, jalan cerita yang komersial, serta promosi optimal. Jadi kalau mau minta dana ke bank, kita harus yakin bahwa film ini pasti jalan, karena kita juga cari profit dari situ," katanya.
Sunil pun memahami mengapa selama ini perbankan tidak melirik industri perfilman nasional. Ia memaparkan, tahun lalu film Indonesia yang mampu menembus satu juta penonton hanya sekitar 10 persen dari total keseluruhan film yang dirilis.
Lulusan salah satu universitas di Amerika Serikat ini mengungkapkan, selama ini Rapi Films mampu membayar sendiri seluruh biaya pembuatan film yang diproduksinya. Namun, ia tetap tertarik untuk bekerjasama dengan bank jika suatu saat rumah produksinya berniat untuk memproduksi sebuah film dengan bujet ekstra.
Lihat juga:Geliat Nollywood, Industri Perfilman Nigeria |
"Bisa jadi berbagi pendapatan, jika perbankan mau memiliki saham film. Kalau mereka mau investasi 20 persen atau 30 persen di film ini, mungkin ada beberapa pilihan. Bank bisa sebagai sponsor, karena saya tahu beberapa bank yang mau melakukan itu. Jadi ada beberapa skema yang bisa ditawarkan ke bank. Asal mereka sudah minat untuk masuk ke [industri] film, itu sudah enak," ujarnya.
Ia melanjutkan, "Saya rasa bank sekarang sudah mulai berpikiran film sebagai komoditi yang tidak kadaluarsa, karena akan ada terus, bukan seperti makanan. Ini akan ada terus seumur hidup. Bahkan, seperti film Sundel Bolong yang diproduksi Rapi Films pada 1980-an, sampai hari ini kami bisa jual di televisi, bisa dapat Rp100 juta."