Namun sayangnya, pentas nominasi Urban Contemporary Album di penghargaan musik tertinggi dunia itu sepi penonton. Hanya sedikit yang menonton penampilan King di Hall D2 JIExpo Kemayoran, Jakarta itu.
Berdasarkan pengamatan CNNIndonesia.com, ruangan yang berkapasitas hampir 2.500 bangku penonton itu hanya dipenuhi ratusan orang saja. Berbeda dengan penampilan sebelumnya, Tulus setengah bangku penonton terisi penuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
King memang bukan kelompok musik yang beraliran jazz. Mereka justru bergenre musik alternatif rhtym & bluess yang bernyanyi sambil diiringi musik elektronik. Salah satu personelnya, Paris Strother merangkap sebagai produser dan pemain musik elektronik itu.
Di panggung Java Jazz, mereka mencoba menghibur pengunjung dengan memberikan sentuhan sedikit jazzy ala musik elektronik.
Mereka mempertunjukkan harmonisasi suara yang memukau. Musik elektronik juga diaransemen dengan nada yang tenang, menghilangkan kesan disko yang biasa menggunakan musik elektronik. Kendati demikian, dalam penampilannya mereka jarang berkomunikasi dengan penonton. Hanya sesekali mengeluarkan sepatah kata saat jeda lagu.
"Kami sangat senang berada di sini, terima kasih," kata Amber usai menyanyikan lagu ke-empat, The Greatest.
Tiga perempuan itu melantunkan nyanyian yang ada dalam album debut mereka, We Are King, seperti The Greatest, The Story dan Hey. Album debut yang rilis Februari itu pula yang masuk nominasi Grammy, namun kalah dari album milik Beyonce yang bertajuk Lemonade.
Penonton yang menyaksikan trio itu memuji penampilan King.
"Mereka bagus pembagian suaranya enak banget, apalagi pas lagu The Story makanya saya bertahan di dalam," kata Rio Maradona, penonton dari Jakarta Timur.
Namun, Rio mengaku tak tahu kalau King merupakan nominasi Grammy. Pun dengan Pipit, pengunjung dari Depok. "Oh iya ya? Enggak tahu, tapi mereka bagus sih," katanya. (rsa)