Bukan hanya penonton yang merasa aneh, Sweet Martabak yang membuka pentas itu pun mengaku heran mereka bisa berada di panggung festival jazz membawakan genre hip hop.
"Kita heran juga sih. Di jazz ada hip hop. Tapi it's okay kita support musik indonesia," kata John Doe, anggota Sweet Martabak setelah membawakan lagu pembuka, Cewek Matre.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalian nonton hip hop kayak nonton jazz ya, diam terus mikir ini teknik tinggi. Ayo semua kita joget bareng. Jangan ragu gerakkan badan kalian," ajak Sweet Martabak sebelum melantunkan Tididid.
Tak ketinggalan, lagu dari 18 tahun lalu, Borju juga ikut dinyanyikan. Para penonton yang memenuhi area panggung outdoor itu bahkan masih hafal lirik di lagu Borju seperti: ‘Do mikado, cie duo tigo dan kalau belagu muka lu jauh.’
Belum lengkap rasanya jika pioner perkembangan musik hip hop Indonesia, Iwa K belum tampil menembangkan hits di dekade ’90-an.
Kehadiran Iwa semakin membuat suasana penonton semakin panas ikut berjoget dan bernyanyi. Iwa memainkan lagu Nombok Dong, Bersamamu, Kuingin Kembali dan Bebas.
Persembahan terakhir dari hip hop ’90-an adalah lagu Malam Indah. Sweet Martabak dan NEO kembali ke panggung menyanyikan lagu itu bersama Iwa. Seakan belum puas nostalgia dengan hip hop ’90-an itu, para penonton berteriak "Lagi, lagi, lagi!"
Namun, permintaan itu tak dipenuhi. Mereka menebusnya dengan wefie, berfoto bersama. Iwa meminta semua penonton mengangkat tangan agar bisa diabadikan dari atas pentas.
"Thank you for making hip hop alive," ujar Iwa. (rsa)