Negara-negara seperti Argentina, Brasil, Kanada, Irlandia, Meksiko, Belanda, Inggris, dan beberapa bagian Amerika, bahkan sudah melegalkan pernikahan sesama jenis. Semakin hari, semakin banyak tuntutan untuk mengakui adanya hubungan sesama jenis, termasuk di film.
Film yang kisahnya bisa dari imajinasi maupun cerminan dunia nyata, dituntut memasukkan LGBT ke dalamnya. Film Hollywood sudah memulainya sejak 1970-an. Yang masih teringat jelas seperti Brokeback Mountain dan pemenang Film Terbaik Academy Awards 2017, Moonlight.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film terbaru dengan konten LGBT yang tengah diperjuangkan para aktivis dunia, adalah Beauty and the Beast. Film adaptasi animasi Disney 1991, yang kini dibuat versi live-actionnya dan dimainkan Emma Watson serta Dan Stevens. Ada karakter gay pertama di sana.
Bagaimana dengan Indonesia?
Lembaga Sensor Film (LSF) meloloskannya 100 persen, tanpa blur, tanpa pemotongan. LSF menontonnya sampai dua kali, tapi menganggap adegan gay yang ada minor semata. Film itu sudah bisa ditonton mulai hari Jumat (17/3) di bioskop-bioskop di Indonesia.
Namun masyarakat Indonesia sepertinya belum terlalu menerima adanya konten LGBT di perfilman, baik Hollywood maupun Indonesia. Itu terbukti dari survei yang digelar CNNIndonesia.com di media sosial selama lima jam pada Kamis (16/3).
Dari 620 responden yang ikut survei, 64 persen menjawab mereka belum bisa menoleransi adanya LGBT di perfilman. Sementara 36 persen lainnya sudah mulai menerima LGBT. Sayangnya, tidak bisa diketahui jenis kelamin dan latar belakang para responden.
[Gambas:Twitter]