Tapi film itu ternyata ditolak oleh jaringan bioskop di India. Lembaga sensor setempat menyebut film itu terlalu ‘berorientasi perempuan,’ mengandung adegan seksual dan suara-suara yang mengarah ke pornografi. Padahal film India sendiri menampilkan goyangan yang kadang erotis, nyanyian yang seringkali menggoda, dan busana yang serba terbuka.
Tapi seperti mengutip LA Times, kekuatan konservatif mengatur seni dan ekspresi di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebijakan pemerintah lain yang membuat berang sineas termasuk ditempatkannya kelompok loyalis mengepalai sekolah-sekolah perfilman di India dan diperintahkannya publik untuk berdiri di bioskop saat mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan sebelum film diputar.
“Mereka hidup di kehidupan yang sesak dan ingin menghidupkannya sedikit, merasakan sedikit kebebasan. Film ini tentang hasrat rahasia mereka, mimpi rahasia mereka dan aksi pemberontakan untuk membantu mereka menemukan ruang bernapas,” tutur Shrivastava.
Film itu sejatinya telah mendapat penghargaan dari festival dunia, namun malah tak mendapat tempat di negerinya sendiri. Rabu (5/4) esok itu akan diputar dan menjadi pembuka dalam Indian Film Festival di Los Angeles. Shrivastava tak menyerah dengan filmnya.
[Gambas:Youtube]