Hasil investigasi itu baru disampaikan di pengadilan melalui sebuah dokumen yang tak tersegel, Senin (17/4) kemarin. Investigasinya selama ini dinamakan ‘bunuh diri aktif.’
Dokumen itu dijaga kerahasiaannya sampai Senin kemarin karena pengadilan Carver County, Minnesota dan jaksa khawatir saksi mungkin lari dan menghilangkan bukti potensial.
Lihat juga:Prince Meninggal karena Overdosis Fentanyl |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, sampai saat ini tidak ada seorang pun yang dituding atas kriminalitas pembunuhan Prince. Sang ‘Purple Rain’ itu tetap dianggap bunuh diri ‘tak sengaja.’
Tak seperti obat-obat lain, mereka tak berhasil menemukan resep dokter untuk fentanyl.
Obat-obatan itu termasuk pil berlabel Watson 853, yang diketahui sebagai versi generik untuk hydrocodone-acetaminophen. Ada pula beberapa pil yang mengandung narkotika yang masih terkontrol di beberapa lemari, termasuk botol vitamin atas nama pengawal Prince.
“Kebanyakan lokasi [ditemukannya obat itu] merupakan daerah yang sering didatangi Prince, seperti kamar tidur dan ruang busana atau laundry,” tertulis di salah satu dokumen.
Detektif yang menyelidiki kasus Prince menyadari bahwa, dari saksi yang mereka wawancara, sang musisi pernah mengalami masa-masa menarik diri dari orang dekat di sekelilingnya. Itu disebut-sebut merupakan hasil dari penyalahgunaan obat-obatan resep dokter.
Penemuan berbagai obat-obatan itu jelas membantah anggapan bahwa selama ini Prince hidup sehat, bahkan jadi seorang vegetarian. Selain kemungkinan mengonsumsi berbagai obat, Prince juga diketahui tidak menggunakan ponsel. Surelnya pun punya banyak nama palsu.
Belum ada kesimpulan bahwa segala perilaku Prince dan orang-orang terdekatnya semasa hidup itu membawa pengaruh atas kematiannya. Itu masih harus diputuskan oleh hakim Minnesota.
Seperti diketahui, Prince ditemukan meninggal 21 April 2016 di usia 57, karena fentanyl.