Buruh Wanita Bersuara soal Pelecehan Seksual di Tempat Kerja

Lalu Rahadian , CNN Indonesia | Senin, 01/05/2017 15:30 WIB
Buruh Wanita Bersuara soal Pelecehan Seksual di Tempat Kerja Merasa banyak kasus pelecehan dan pelanggaran kerja terhadap pekerja wanita, para buruh angkat suara melalui sebuah film dokumenter. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Buruh lintas pabrik di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Jakarta Utara, mengaku telah berhasil membuat film dokumenter yang menceritakan praktik pelecehan seksual terhadap pekerja perempuan di daerah tersebut. 

Aktivis Perempuan Mahardhika Mutiara Ika berkata, proses pembuatan dokumenter tersebut telah dimulai sejak 2012 lalu. Pembuatan dokumentasi itu dilakukan pasca terjadinya banyak praktik pelecehan seksual terhadap buruh perempuan.

"Ini yang pertama kemarin di KBN Cakung, dan semoga di kawasan industri nantinya ada rambu bebas pelecehan seksual," tutur Mutiara di Kantor Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta, Sabtu (29/4).
Pelecehan seksual disebut bukan satu-satunya masalah yang dihadapi buruh perempuan.

Pekerja wanita, terutama di bidang industri garmen, diklaim juga kerap mendapat upah rendah dan dibebani target pekerjaan yang tidak manusiawi.

Mutiara bercerita, banyak industri yang menerapkan target kepada buruh perempuan agar mampu menjahit atau memasang kancing baju dalam jumlah tertentu setiap 20 menit hingga satu jam kerja.

Jika target yang diberikan tak mampu dipenuhi, buruh perempuan terkait harus bekerja lembur tanpa mendapat pesangon.
"Seorang buruh misal harus menyelesaikan 180 jahitan dalam waktu satu jam, dan itu bisa berubah berdasarkan permintaan pengawas,” kata Mutiara.

“Misal ada juga target tiap 20 menit harus pasang berapa kancing baju atau lengan. Sistem tak manusiawi ini berdampak pada terjadinya pelanggaran di jam kerja," lanjutnya.

Menurut Mutiara, pelanggaran jam kerja bagi buruh perempuan terjadi semakin brutal saat ini. Kejadian itu diperparah dengan minimnya gaji yang diberikan kepada para pekerja.

Karena banyaknya kasus diskriminasi pekerja perempuan, federasi buruh lintas pabrik di KBN Cakung disebut telah berhasil membuka posko pengaduan sejak Januari lalu.
Posko tersebut dibuka untuk mengakomodasi aduan dan cerita pelecehan yang dialami buruh perempuan.

Sementara ini, posko tersebut masih berbagi tempat dengan pos satpam di KBN Cakung. Mutiara juga mengaku belum memiliki rekapitulasi sementara aduan yang diterima posko sejak didirikan awal 2017.

"Yang dilakukan posko selama empat bulan adalah membuka pengaduan, setiap hari selalu ada piket," katanya.

Film dokumenter tentang pekerja wanita tersebut rencananya akan dirilis pada 4 Mei mendatang.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Suara Buruh 2017