Aktivis Perempuan Mahardhika Mutiara Ika berkata, proses pembuatan dokumenter tersebut telah dimulai sejak 2012 lalu. Pembuatan dokumentasi itu dilakukan pasca terjadinya banyak praktik pelecehan seksual terhadap buruh perempuan.
"Ini yang pertama kemarin di KBN Cakung, dan semoga di kawasan industri nantinya ada rambu bebas pelecehan seksual," tutur Mutiara di Kantor Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta, Sabtu (29/4).
Lihat juga:Lima Rekomendasi Film Akhir Pekan |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mutiara bercerita, banyak industri yang menerapkan target kepada buruh perempuan agar mampu menjahit atau memasang kancing baju dalam jumlah tertentu setiap 20 menit hingga satu jam kerja.
“Misal ada juga target tiap 20 menit harus pasang berapa kancing baju atau lengan. Sistem tak manusiawi ini berdampak pada terjadinya pelanggaran di jam kerja," lanjutnya.
Menurut Mutiara, pelanggaran jam kerja bagi buruh perempuan terjadi semakin brutal saat ini. Kejadian itu diperparah dengan minimnya gaji yang diberikan kepada para pekerja.
Karena banyaknya kasus diskriminasi pekerja perempuan, federasi buruh lintas pabrik di KBN Cakung disebut telah berhasil membuka posko pengaduan sejak Januari lalu.
Sementara ini, posko tersebut masih berbagi tempat dengan pos satpam di KBN Cakung. Mutiara juga mengaku belum memiliki rekapitulasi sementara aduan yang diterima posko sejak didirikan awal 2017.
"Yang dilakukan posko selama empat bulan adalah membuka pengaduan, setiap hari selalu ada piket," katanya.
Film dokumenter tentang pekerja wanita tersebut rencananya akan dirilis pada 4 Mei mendatang.