Itu buku fisik saja, belum format lain. Jika digabung, penjualan buku fisik, digital dan jurnal termasuk yang ekspor mencapai rekor 4,8 miliar euro.
Buku yang banyak diminati adalah karya untuk anak-anak. Penjualan buku anak meningkat 16 persen sampai 365 juta euro. Buku yang diekspor mendapat apresiasi lebih banyak lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Candu Buku 'Berbicara' |
Mengutip Independent, itu berkat buku berjudul Lean In. Karangan Joe Wicks yang berseri sampai 15 itu membuat penjualan nonfiksi meningkat tajam.
Sementara itu, di tengah era Kindle, Amazon dan ponsel pintar, penjualan buku elektronik justru menurun. Mengutip CNN, menurut sumber data yang sama, angkanya menurun 17 persen pada 2016.
Lihat juga:Perpustakaan dalam Genggaman |
Sementara tren penjualan buku fisik juga meningkat di AS. Untuk buku softcover penjualannya naik 7,5 persen, sementara hardcover naik 4,1 persen.
Bukan hanya dibeli, buku-buku itu juga dibaca. Data yang diambil CNN dari studi Pew Research Center menyebut bahwa 65 persen warga Amerika membaca setidaknya satu buku fisik tahun lalu.
Sementara pembaca buku elektronik hanya 28 persen.
Untuk buku anak-anak, yang penjualannya meningkat, didukung oleh hobi mewarnai yang belakangan makin merajalela. Itu jauh lebih baik dilakukan di buku cetak ketimbang digital.
“Format cetak lebih nyaman bagi banyak orang dan penerbit menemukan bahwa beberapa genre lebih baik di bidang cetak dibanding lainnya dan menggunakan [kekuatan] itu untuk menyetir penjualan,” kata kepala PwC untuk divisi hiburan dan media di Inggris, Phil Stokes.
“Saya pikir untuk pembaca serius, rasa permanen selalu jadi bagian dari pengalaman. Semua hal dalam hidup itu mengalir, tapi ada teks yang tidak berubah,” tutur penulis Jonathan Franzen pada 2012.