Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta Hikmat Darmawan bercerita, pada 1950-an hingga 1960-an persaingan antarpartai dan antarideologi di Indonesia cukup keras. Belum lama sepenuhnya lepas dari cengkeraman penjajah tentu membuat suasana politik belum begitu stabil.
Pada masa itu, tiga pelopor perfilman Nusantara, yakni Usmar Ismai, Asrul Sani dan Djamaludin Malik bergabung dengan Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia). Ini merupakan lembaga seni-budaya yang digagas oleh Nahdlatul Ulama (NU).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hikmat melihat, dari 1960-an sudah ada kesadaran penuh dari para sineas di masa itu untuk sengaja membuat film dengan ideologi atau konstruksi nilai-nilai Islam. Selain Para Perintis Kemerdekaan, pada 1977 Asrul Sani dan Chaerul Umam juga membuat film bernapaskan Islam dengan judul Al-Kautsar. Ide skenario film itu juga akhirnya dikembangkan oleh Asrul untuk karya lainnya yang bertajuk Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982).
“Yang menarik adalah, Asrul memasukkan cerita tentang persoalan sengketa tanah antara pihak korporasi dengan masyarakat lokal, yang solusinya tidak dengan doa, tapi betul-betul diselesaikan dengan politik tanah juga, yakni mengajukan alternatif kepemilikan tanah bersama,” ujarnya.
Jadi Lebih Personal
Ini seiring dengan banyaknya bacaan-bacaan novel remaja Islam yang masalahnya cinta-cintaan, jodoh-jodohan, pria tampan yang kemudian memilih gaya hidup Islami kemudian tobat atau poligami.Hikmat Darmawan, Ketua Komite Film DKJ |
Apalagi, tuturnya, dengan adanya novel Ayat-Ayat Cinta yang kemudian memunculkan keinginan para sineas untuk mengadaptasikannya menjadi sebuah film bernapaskan Islam yang memuat unsur dakwah dengan lebih khusus.
“Jadi ada konstruksi Islam yang bukan hanya superior, tapi punya ciri-ciri khas, seperti nilai-nilainya diterjemahkan atau diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yang persoalannya seringkali tidak terlalu jelas apa hubungannya dengan ide-ide superioritas Islam," katanya.
"Maksudnya, superioritas bukan lagi pada persoalan sosial, melainkan persoalan pribadi,” ia menambahkan.
Hkmat memaparkan, persoalan pribadi yang dimaksud adalah terkait dengan gaya hidup, cinta, cara memilih pasangan, pilihan untuk berpoligami, dan lain sebagainya.
“Ada banyak sekali ini seiring dengan banyaknya bacaan-bacaan novel remaja Islam yang masalahnya cinta-cintaan, jodoh-jodohan, pria tampan yang kemudian memilih gaya hidup Islami kemudian tobat atau poligami,” katanya.