logo CNN Indonesia

Analisis

'Game of Thrones' dan Para Wanita yang Siap Berebut Takhta

, CNN Indonesia
'Game of Thrones' dan Para Wanita yang Siap Berebut Takhta
Jakarta, CNN Indonesia -- Dari musim pertama sampai ke-enam, Game of Thrones diwarnai perebutan takhta oleh berbagai kerajaan yang ada di Westeros. Perang antarklan tampaknya masih ada terjadi sampai musim ke-tujuh yang akan tayang di HBO pada Senin (17/7) pukul delapan pagi mendatang.

Namun sepertinya akan ada yang berbeda dari perebutan takhta kali ini.

Pada beberapa cuplikan yang beredar, diisyaratkan bahwa akan ada beberapa wanita yang menjadi sosok penting di balik permainan takhta kali ini. Mereka adalah Daenerys Targeryan (Emilia Clark), Cersei Lannister (Lena Headey), Sansa Stark (Sophie Turner), Yara Greyjoy (Gemma Whelan), Olenna Tyrell (Diana Rigg) dan Ellaria Sand (Indira Varma).

Merunut musim-musim sebelumnya, memang sudah saatnya bagi enam perempuan itu untuk punya peran setelah para pria memainkan takhta. Mereka pun telah siap. Itu terlihat, salah satunya dari perkataan Cersei Lannister di cuplikan Game of Thrones musim ke-tujuh, “Enemies to the East, enemies to West, enemies to the South, enemies to the North.”

[Gambas:Youtube]

Cersei mendeklarasikan diri sebagai ratu setelah suaminya, Robert Baratheon dan anaknya meninggal. Ia lah yang kini sedang memegang kendali Westeros, benua fiktif tempat cerita Game of Thrones berlangsung, yang terbagi dalam tujuh wilayah atau The Seven Kingdoms.

Wilayah itu adalan North, Riverlands, Vale, Westerlands, Reach, Stromlands, dan Dorne.

Cersei menduduki Iron Throne didampingi saudara sekaligus cintanya, Jaime Lannister. Jaime dikenal sebagai kesatria hebat yang pandai bertarung dan menyusun strategi perang. Tak heran jika dalam cuplikan terbaru Game of Thrones, ia terlihat memimpin pasukan perang.
Cersei Lannister.Cersei Lannister. (Dok. Helen Sloan/HBO)

Frasa ‘Enemies to the East' dalam ucapan Cersei kemungkinan besar merujuk pada Daenerys Targaryen.

Selama enam musim Daenerys mengumpulkan pasukan di benua bagian Timur bernama Essos. Kaum Dothraki, pasukan Unsillied, tentara bayaran Second Sons dan budak yang ia bebaskan sudah berjanji untuk membantunya merebut tahkta dari tangan Cersei.


Ia juga memiliki tiga naga bernama Drogon, Viserion dan Rhaegal yang sangat setia.

Bukan hanya itu, perempuan berambut perak itu juga didukung Yara, Olenna yang menguasai wilayah Reach dan Ellaria yang menguasai wilayah Dorne. Mereka bertiga bergabung karena yakin Daenerys sosok yang paling layak menjadi ratu, melanjutkan dinasti keluarganya sebagai penguasa Iron Throne sebelum direbut oleh Robert Baratheon.

Aliansi ini membuat Daenerys memiliki pasukan dari barat dan selatan. Tepat bila disandingkan dengan frasa ‘Enemies to West, Enemies to the South.’ Namun, meski beralisansi, tiga perempuan itu memiliki tujuan yang berbeda dengan Daenerys.
Daenerys Targaryen.Daenerys Targaryen. (Dok. Helen Sloan/HBO)
Yara ingin wilayah bernama Pyke yang terpisah dari Westeros kembali ada di tangannya setelah direbut oleh pamannya, Euron Greyjoy. Sedangkan Olenna dan Ellaria, ingin balas dendam karena Cersei membunuh keluarga mereka, yakni Tyrell dan Sand.

Belum bisa dipastikan apa yang akan terjadi pada aliansi tersebut di musim ke-tujuh.

[Gambas:Video CNN]

Hal apa pun bisa terjadi dalam cerita fiksi besutan David Benioff dan D.B. Weiss yang diadaptasi dari novel karya Goerge R.R Martin itu. Bisa terjadi pengkhianatan seperti perlakuan House Bolton pada House Stark yang sudah beraliansi ribuan tahun, atau aliansi setia seperti House Mormont kepada House Stark.

Sementara itu, masih ada wilayah North dan Vale yang dideklarasikan sebagai wilayah independen bernama Kingdom in The North. Jon Snow, saudara tiri Sansa Stark, berhasil merebut kembali rumahnya setelah diambil alih oleh House Bolton di bawah kepemimpinan Ramsay Bolton lewat pertarungan yang disebut sebagai Battle of Bastards.
Sansa Stark.Sansa Stark. (Dok. HBO)
Sebelum perang berlangsung, Jon memutar otak menyusun strategi perang agar menang walau kalah jumlah dengan House Bolton. Tanpa diketahui Jon, Sansa mengirim surat kepada Petyr Baelish, yang secara tidak langsung memegang kendali wilayah Vale. Ketika pasukan Jon hampir kalah, kesatria Vale datang membantu sehingga berakhir kemenangan bagi Jon.

Setelah perang itu Jon didapuk sebagai King in The North. Secara silsilah Jon tidak layak menjadi raja karena bukan anak Ned Stark. Ia adalah anak dari Rhaegar Targeryan dan Lyanna Stark, adik Ned. Sansa yang merupakan anak kandung Ned lebih pantas didapuk sebagai Queen in The North. Jon yang sadar akan hal itu sudah meminta Sansa untuk menjadi pemimpin, tapi ditolak. Artinya, ia memberi ‘restu.’
The Seven Kingdoms di Game of Thrones.The Seven Kingdoms di Game of Thrones. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Walau Kingdom in The North dipimpin laki-laki, peran Sansa dalam menyatukan North dan Vale sangat kentara. Jon tak akan menang dalam perang dan menjadi raja bila bukan karena tangan Sansa. Bersatunya wilayah ini bisa dianggap ancaman bagi Cersei dan cocok disandingkan dengan frasa ‘Enemies to the North.’

Meski perannya jelas, belum bisa diapastikan apakah Sansa akan ikut memainkan Iron Throne. Dalam seri itu diperlihatkan Sansa hanya ingin kembali ke rumah dengan aman tanpa gangguan. Namun, Petyr yang dikenal licik selalu menggoda Sansa untuk merebut Iron Throne, bahkan ia meminta Sansa sebagai istrinya agar bisa menduduki takhta itu bersama.


Perebutan sebenarnya bukan hanya soal takhta. Bisa jadi itu hanya sesuatu yang sengaja diciptakan untuk mengganggu perhatian. Sebab di saat para manusia sibuk berebut takhta, ada pasukan orang mati yang siap menginvasi Westeros di bawah komando White Walker.

Makhluk itu juga seharusnya jadi ancaman bagi seluruh manusia di Westeros.

Winter is coming!!! The night is dark and full of terrors!!!

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Genderang 'Game of Thrones'
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video