Agusniar Ditasani Rahmawati
Seorang mantan reporter yang sedang merintis kuliner, namun sesekali tetap meluangkan waktu menulis.

Chester Bennington yang 'Freak' tapi Bikin Jatuh Hati

Agusniar Ditasani Rahmawati, CNN Indonesia | Jumat, 21/07/2017 20:20 WIB
Chester Bennington membuat lagu-lagu yang gelap, tapi juga menceritakan perjuangannya untuk bangkit, lewat musik di Linkin Park. Chester Bennington meninggalkan duka bagi para penggemar Linkin Park. (Kevin Winter/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Remember all the sadness and frustration.. and let it go..

Penggalan lagu Iridescent itu seakan menjadi ungkapan hati Chester Bennington, vokalis Linkin Park. Penyanyi 41 tahun ini memutuskan mengakhiri semua tekanan hidupnya—kesedihan dan frustrasi seperti dalam lirik lagu itu—dengan cara bunuh diri. Tragis.

Sebagai fan, saya syok. Bangun tidur justru mendapati kabar duka semacam itu. Spontan saya langsung mengecek kebenarannya. Inspirasi saya itu rupanya ditemukan tewas gantung diri.


I was shocked and heartbroken. I cried.


Chester adalah sosok yang selama ini jadi penyemangat hidup saat saya berada di titik terendah. Lewat lagu-lagu Linkin Park lah saya jadi bisa menguatkan diri sendiri.

Hingga kini saya pun masih menikmati musik mereka.

Sebelumnya saya tidak pernah tertarik dengan musik bergenre rock. Terlalu berisik. Tetapi saat mendengar Crawling, saya merasakan sesuatu. Just like when you fall in love with someone from the first time. Ada yang beda dari musik Linkin Park.
Pertama mendengar Crawling, rasanya langsung seperti orang jatuh cinta.Pertama mendengar Crawling, rasanya langsung seperti orang jatuh cinta. (REUTERS))
Entahlah, mungkin karena sang vokalis yang good looking atau musik mereka yang sangat menyentuh hati. Sejak itu, saya tidak pernah ketinggalan mendengarkan musik Linkin Park. Crawling, One Step Closer, Papercut, In The End dari album mereka Hybrid Theory jadi lagu favorit saya zaman itu. Zaman ketika saya baru memakai seragam putih abu-abu.

Salah satu lagu favorit saya adalah Numb, dari album ke-dua mereka, Meteora. Lagu itu seakan menjadi ungkapan hati saya juga. Numb menceritakan tentang sosok yang dianggap 'freak' oleh lingkungannya. Sosok yang selalu dianggap tidak kompeten, tidak bisa apa-apa, seakan tidak ada di dunia ini. Seperti Chester. Mungkin seperti saya, waktu itu.

Saking sukanya sama Numb, saya sampai beli kacamata dan kemeja mirip yang dipakai Chester dalam video klip itu. Penampilan saya dulu pun juga menyerupai laki-laki. Mirip Chester.


Saya memiliki hampir semua album Linkin Park: Hybrid Theory, Meteora, Reanimation, Minutes to Midnight, A Thousand Suns, Living Things, dan terakhir One More Light yang baru rilis.

Tapi belum sempat saya menikmati album terbaru mereka dengan nyaman, Chester sudah pergi.

Yang saya bisa ambil dari lagu-lagu Linkin Park adalah benang merah soal kesedihan, kesepian, tekanan hidup, depresi, dan kekerasan. Tapi juga bagaimana kita bisa bangkit dari itu semua. Itulah kenapa saya bilang lagu-lagu mereka bisa jadi penyemangat hidup.

Sebut saja Crawling, Numb, Iridescent, Leave Out All The Rest, dan Heavy. Lagu-lagu itu bagi saya metal. Bukan musik metal, melainkan mellow total. Tetapi Linkin Park mengemasnya dengan sangat apik sehingga orang mungkin tidak ngeh jika itu sebenarnya lagu galau.

Konser Terakhir

Linkin Park sudah dua kali konser di Indonesia, 2004 dan 2011 silam. Siapa sangka, konser bertajuk ‘A Thousand Suns World Tour 2011’ yang digelar di Gelora Bung Karno pada Rabu, 21 September 2011 itu menjadi konser terakhir Linkin Park di Indonesia.

Masih banyak fan yang berharap mereka kembali datang ke Indonesia. Tapi Chester tiada.
Chester Bennington dan Linkin Park pernah menggelar konser di Indonesia.Chester Bennington dan Linkin Park pernah menggelar konser di Indonesia. (AFP/Rich Fury)
Momen konser itu adalah salah satu hari bersejarah dalam hidup saya. Saya sampai harus ‘merengek’ pada pemimpin redaksi agar meliputnya. Padahal saat itu saya seorang reporter baru di salah satu media cetak saat itu. Meski begitu, mendapatkannya tidak gampang.

Saya tetap harus proaktif menemui promotor, memastikan ID konser atas nama media tempat saya bekerja terdaftar. Dua hari berturut-turut saya menyambangi GBK dengan alasan liputan persiapan konser Linkin Park. Hingga akhirnya saya benar-benar menerima ID konser itu.

Tangan saya sampai gemetar saat menerima ID itu.

"Thanks God, You made one of my dreams came true,” batin saya saat itu.

Di sana saya berkenalan dengan penggemar Linkin Park dari luar kota yang rela jauh-jauh datang ke Jakarta untuk menonton Chester cs. Ia secara khusus mendesain seragam Linkin Park untuk di sana. Saya juga berkenalan dengan Linkin Park Fans Indonesia (LPFI).


Konsernya sendiri membuat saya merinding bahkan sebelum dimulai. Saya belum pernah menonton konser apa pun sebelumnya. Ini adalah konser pertama, dan itu Linkin Park.

Saya termasuk sekitar 20 ribu penggemar yang riuh menyerukan Linkin Park di GBK malam itu. Keringat, lapar, sampai tidak saya rasakan saking antusiasnya menonton Linkin Park.

Saya masih ingat betapa suara rap Mike Shinoda mulai bergemuruh diriingi teriakan para penonton. Linkin Park kembali menggebrak lewat lagu Given Up dan New Divide.

"Jakarta, thanks for joining us today. Great audiences,” sapa Chester usai membawakan New Divide.

Bagaimana dengan saya? Saya hanya melongo. Saya masih belum percaya bisa menonton konser Linkin Park. Badan saya gemetar, selain karena lapar juga super excited. Saya seakan tidak mempedulikan perut saya yang keroncongan. Saya tetap berjingkrak, mengikuti Chester, bernyanyi dan berteriak as loud as I can. Saya sampai lupa bahwa di sana untuk bekerja.
Chester Bennington identik dengan suara 'raungannya.'Chester Bennington identik dengan suara 'raungannya.' (Rich Fury/Getty Images for iHeartMedia/AFP)
Chester dan Mike sangat atraktif malam itu. Saat lagu Waiting For The End, Chester mengajak penonton melambaikan tangan ke atas mengikuti irama. Seluruh penonton malam itu benar-benar tersihir dengan Linkin Park. Termasuk saya, tentunya.

Lampu panggung tiba-tiba padam dan langsung menyorot Mike yang bermain keyboard. Intro lagu Iridescent pun mengalun. Penonton larut dalam alunan musik yang juga soundtrack Transformers 3 ini. Momen ini dimanfaatkan Linkin Park untuk memelankan sound mereka. Alhasil, seisi venue hanya terdengar koor penonton yang menyanyikan Iridescent.

Total 24 lagu dibawakan Linkin Park malam itu, termasuk dari album mereka terdahulu seperti Numb, Breaking The Habit, One Step Closer, What I've Done, In The End.

Saya keluar venue dengan perasaan berkecamuk, bahagia, lelah sekaligus terharu plus kelaparan. Jujur, saya masih gemetar usai keluar dari venue. Rasanya masih seperti mimpi.


Untung teman saya mengingatkan untuk wawancara. "Oh iya, saya harus kembali bekerja.”

Sampai sekarang sudah menikah dan punya anak, saya masih menikmati musik Linkin Park.

Tapi jika nanti Linkin Park punya album baru, sudah tak ada suara Chester di dalamnya. Itu yang berbeda. Ia pergi membawa semua tekanan, luka, sekaligus kebahagiaan dalam hidupnya.

Chester pergi menyisakan tangis tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga jutaan penggemarnya di seluruh dunia. Siapa sangka, Chester menyusul sahabatnya Chris Cornell tepat di hari ulang tahunnya pada Kamis (20/7), dengan cara yang sama: bunuh diri.

Goodbye Chester, good bye my inspiration. You're gone now, but your music, your voice stay still. May you find a truly happiness now. #RIPChester
Album Linkin Park selanjutnya takkan berisi suara Chester Bennington.Album Linkin Park selanjutnya takkan berisi suara Chester Bennington. (REUTERS/Steve Marcus/File Photo)
(rsa)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK