logo CNN Indonesia

Tantangan Kembalikan Horor 'Pengabdi Setan' & 'Jelangkung'

, CNN Indonesia
Tantangan Kembalikan Horor 'Pengabdi Setan' & 'Jelangkung' Pengabdi Setan (1980) yang digarap oleh sutradara Sisworo Gautama Putra itu sukses membuat bukan hanya bulu kuduk Joko berdiri, namun membuatnya ketakutan sendiri di kala malam tiba. (Dok. Rapi Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada banyak alasan film horor lawas menarik di mata sineas untuk dibuat versi terbaru. Mulai dari obsesi pribadi, hingga jadi keseruan dalam perfilman. Yang jelas, menggarap film lawas punya tantangan tersendiri.

Seperti yang terjadi pada Joko Anwar. Ia ditunjuk oleh Rapi Films untuk menggarap film horor lawas legendaris Indonesia, Pengabdi Setan yang tayang pada 1980 silam. Ternyata, film itu adalah obsesi pribadi sang mantan wartawan film.

"Pengabdi Setan itu film yang buat saya ingin jadi filmmaker. Waktu kecil sering nonton ke bioskop kalau bisa beli tiket. Kalau enggak, ngintip lewat lubang angin. [Film] ini salah satu yang berhasil ditonton di dalam bioskop," katanya saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Pengabdi Setan (1980) yang digarap oleh sutradara Sisworo Gautama Putra itu sukses membuat bulu kuduk Joko berdiri. Bukan hanya itu, ia juga sering ketakutan sendiri di kala malam tiba.

Setelah menjadi sineas, Joko melakukan banyak cara untuk mendapatkan kesempatan menggarap ulang film yang selalu dikenangnya itu.

Mulai mendatangi sang produser Rapi Films, Sunil Samtani, hingga menyodorkan film horor pendek untuk menggaet sang empunya Pengabdi Setan.

Joko pun berhasil mendapatkan perhatian Sunil. Kebetulan Rapi Films memang ingin membuat ulang film itu. Tapi mereka sebenarnya sudah memiliki calon sutradara. Beruntung, ide Joko tampak lebih menarik bagi Sunil.

Joko Anwar berhasil menarik perhatian Sunil Samtani selaku produser Rapi Films untuk menggarap ulang 'Pengabdi Setan' (1980).Joko Anwar berhasil menarik perhatian Sunil Samtani selaku produser Rapi Films untuk menggarap ulang 'Pengabdi Setan' (1980). (CNN Indonesia/Munaya Nasiri)
Kendati sudah mendapat apa yang ia inginkan, Joko masih dihadapkan pada tantangan menggarap film horor legendaris itu. Bagaimana memuaskan pencinta film tersebut? Bagaimana membuat mereka tetap ketakutan, bahkan mungkin lebih, seperti film aslinya?

"[Tantangannya] ini me-manage ekspetasi orang, kan ada yang sudah nge-fan dengan film pertamanya. Jangan sampai mereka kecewa, makanya kami pertahankan atmosfernya, karena film Pengabdi Setan atmospheric horror," ujar Joko.

Hal itu pula yang dititipkan Sunil pada Joko setelah mempercayakan penggarapan Pengabdi Setan pada sutradara film A Copy of My Mind.

"'Make it good,' itu pesan dia [Sunil] ke saya," kata Joko.


Sementara di tempat terpisah, Sunil menyatakan bahwa permintaan khususnya kepada Joko adalah 'menjaga napas' film Pengabdi Setan. Menurutnya film itu telah memiliki kekuatan sendiri.

"Menurut saya, Pengabdi Setan itu very strong brand dan pasti akan dibandingkan [dengan yang lama]. Saya yakin Joko bisa, mudah-mudahan melewati level yang lama," tutur Sunil.

Karena itu Joko mengadaptasi cerita Pengabdi Setan tanpa banyak mengubah. Ia mengatakan bahwa dirinya fokus pada detail yang belum terceritakan dengan baik di film sebelumnya.

"Pasti ada perubahan [cerita]. Kalau film asli, karakternya tidak terceritakan cukup, di yang sekarang lebih jelas, hubungan antara karakternya lebih jelas," kata Joko.

[Gambas:Instagram]

"Segi teknik dan teknologinya enggak ada yang macam-macam. Pakai practical effect, tidak ada CGI. Praktikal dari segi make up contohnya," lanjutnya.

Berbeda dengan duet sutradara Jose Purnomo dan Rizal Mantovani yang membuat versi baru dari film Jelangkung (2001) yang diberi judul Jailangkung (2017). Konsep yang diusung memang sama, kata Rizal. Tapi keseluruhan film Jailangkung benar-benar dibuat baru.

[Gambas:Youtube]

Pembaruan itulah yang menjadi tantangan baru bagi Rizal dan Jose.

"Tekanannya bikin yang harus bisa diterima. [Jailangkung] bukan produksi ulang, cerita beda, judul beda, karakter beda, film itu lebih ke duet lagi [dengan Jose]," kata Rizal ketika dihubungi lewat sambungan telepon beberapa waktu lalu.

"Makanya tantangannya bagaimana menyuguhkan yang baru setelah 12 tahun," lanjutnya.

Obsesi dan Tantangan Garap Ulang Film Horor LawasFoto: CNN Indonesia/Timothy Loen

Bukan Hanya di Indonesia

Makin maraknya versi terbaru dari film horor lawas Indonesia ditanggapi positif oleh Rizal.

Rizal mengatakan, pembaruan itu bukan karena kehabisan ide. Itu pun tak terjadi hanya di genre horor, dan bukan hanya di Indonesia. Sutradara banyak melakukan itu, karena ada rasa seru saat menggarapnya.

"Bukan di Indonesia saja, dan ini konsekuensi industri, di luar sana Texas Chainsaw juga di-remake. Banyaklah judul yang dibuat, karena industri sekarang sudah berjalan, sudah mulai dewasa," kata Rizal.

[Gambas:Youtube]

Keseruan menggarap film horor lawan, disampaikan Rizal, salah satunya karena ia seperti harus menggali imaji menciptakan sesuatu yang diyakini masyarakat meski tak ada bukti konkretnya.

"Saya melihat film horor ini seperti menggarap fantasi, bukan klenik. Di luar, mereka punya alien, mumi, drakula, alien, dipercayai masyarkat tapi tidak ada buktinya. Tapi mereka yakin ada."

"Kalau Indonesia, kuntilanak itu juga jatuhnya fantasi. Monster kita tuh kuntilanak, saya pendekatannya ke sana," ujar sutradara film 5 cm itu.

[Gambas:Instagram]

"Letak keseruan menggarap horor karena fantasinya dari cerita Indonesia. Saya yakin 99 persen mereka enggak percaya, tapi dapat keseruan," tambahnya.

Sedangkan bagi Joko, penggarapan film horor untuk dia diharapkan sebagai suguhan yang lebih baik dan untuk pemenuhan hasrat kecintaannya pada genre tersebut.

"Ini sebagai hiburan saja, supaya ada lagi film horor yang baik. Karena horor itu genre kesukaan saya, dan karena ini film horor pertama, ingin menyumbang satu film yang dibuat dengan baik, akting yang baik. Semoga," ucap Joko seraya berharap.

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video