logo CNN Indonesia

Siluman Ular Buka Pasar Film Horor Indonesia pada 1934

, CNN Indonesia
Siluman Ular Buka Pasar Film Horor Indonesia pada 1934 Kisah film horor di Indonesia justru dimulai bukan dari sosok kuntilanak, namun persaingan cinta antar dua siluman ular, 83 tahun lalu. (Dok. Cino Motion Pictures/ The Teng Chun via wikimedia commons (Anonymous-EU))
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Indonesia saat ini boleh saja ketakutan melihat sosok kuntilanak yang menyelinap di tengah kegelapan atau pocong yang tiba-tiba muncul di balik jendela, di film-film horor. Namun jauh sebelum itu, siluman ular menjadi momok, tepatnya 83 tahun lalu.

Ouw Peh Tjoa alias Doea Siloeman Oeler Poeti en Item (Dua Siluman Ular Putih dan Hitam) sejauh ini tercatat sebagai film horor pertama yang ditayangkan di Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.

Dibuat oleh sutradara keturunan Tionghoa, The Teng Chun, film ini diproduksi oleh Cino Motion Pictures dan diangkat dari legenda rakyat China.


Merangkum berbagai sumber, film ini mengisahkan perebutan hati seorang pemuda bernama Khouw Han Boen oleh dua jelmaan ular putih dan hitam. Kedua siluman itu menjelma menjadi wanita cantik usai bersemedi selama ratusan tahun.

Perebutan hati pemuda itu dimenangkan sang wanita ular putih. Ia dan Khouw pun akan menikah. Namun, Khouw mengetahui identitas asli wanita ular putih dan berusaha membatalkan pernikahan mereka, tapi gagal.

Pernikahan terpaksa Khuow dan wanita ular putih ternyata mampu membuat pria itu jatuh cinta kepada sang jejadian. Namun seorang pendeta datang dan berusaha membunuh si wanita ular. Beruntung, nasib sang jejadian ditolong Dewi Kwan Im.

Film hitam putih ini diketahui dibawakan dengan bahasa Melayu dan ditayangkan ke berbagai layar lebar tradisional kala itu. Film ini pun menuai tanggapan positif hingga mampu dibawa ke negeri seberang seperti Singapura yang dihuni mayoritas oleh masyarakat Tionghoa.


Ouw Peh Tjoa sayangnya tidak memiliki jejak rekaman hingga saat ini. Namun disebutkan, kesuksesan film ini mampu membuat The Teng Chun mengembangkan perusahaannya sendiri.

Disebutkan, Ouw Peh Tjoa memiliki sebuah sekuel berjudul Anaknja Siloeman Oeler Poeti yang mengisahkan anak sang wanita ular putih istri Khuow yang selamat dari pembunuhan berkat Dewi Kwan Im.

Kala itu, legenda masyarakat Tionghoa menjadi favorit untuk diangkat ke layar lebar, seperti beberapa film yang tayang selanjutnya yaitu Pat Bie To (1932) dan Pat Kiam Hiap (1933).

Namun The Teng Chun bukan hanya membuat kisah siluman sebagai film horor. Ia diketahui pernah pula membuat film yang bernuansa lebih 'Indonesia' berjudul Tengkorak Hidoep.


Menurut katalog filmindonesia.or.id, kali ini The Teng Chun bertindak sebagai produser. Film Tengkorak Hidoep sendiri disutradarai oleh Tan Tjoei Hock. Film itu dibintangi Tan Tjeng Bok, Moh Mochtar, Misnahati, dan Bissu

Tengkorak Hidoep mengisahkan perjalanan perjalanan sekelompok orang ke Pulau Mustika. Salah satu remaja itu, Raden Darmadji ingin mencari saudaranya yang hilang dalam kecelakaan kapal.

Namun mereka mengalami masalah. Mereka bertemu dewa Maha Daru yang telah hidup di sana selama dua ribu tahun.


Akibat badai, Maha Daru bangkit. Petir menyambar makamnya dan ia menjadi tengkorak hidup yang dikelilingi api. Darmadji disergap preman dan makhluk halus. Putrinya, Rumiati selamat, namun terancam oleh Maha Daru.

Ada beberapa faktor yang membuat Tengkorak Hidoep disambut meriah. Menurut Tan, itu karena efek khusus film. Sambaran petir yang memecah makam Maha Daru dianggap brilian.

Tengkorak Hidoep disebut-sebut terinspirasi Dracula karya Bram Stoker. Ada pula yang menyebutnya terinspirasi Tarzan karya Edgar Rice Burroughs.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Horor Lawas Gentayangan Lagi
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video