Mengulik Nielsen, Perusahaan Penghitung Rating Televisi

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 23/09/2017 09:11 WIB
Mengulik Nielsen, Perusahaan Penghitung Rating Televisi Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri televisi publik Indonesia mengacu pada data rating yang dikeluarkan oleh Nielsen. Perusahaan multinasional itu mengukur rating dengan memasang alat khusus bernama people meter pada setiap televisi di 2.273 rumah tangga. Panel itu tersebar di 11 kota besar di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, CNNIndonesia.com berkesempatan mewawancarai Direktur Eksekutif Media Nielsen Hellen Katherina untuk mengulik informasi tentang perhitungan rating, mulai dari sampel, biaya, hingga perbandingan dengan negara lain yang belum banyak diketahui.

Apa yang menyebabkan jumlah sample Nielsen di Indonesia hanya 2.273 panel, padahal jumlah penduduk sangat besar?


Kalau jumlah sampel, tergantung kebutuhan di negaranya, tergantung kemampuan stakeholder. Contohnya di Australia jumlah populasi penduduknya itu hanya sebesar Jakarta tetapi jumlah panelnya dua kali lipat dari Indonesia.

Jadi, di sana ada 5.000 panel karena mereka mampu membiayai panel sebesar itu dan kebutuhan industrinya sampai ke sana.

Nah kalau di Indonesia ya, kami selalu mencari titik temunya di setiap negara, di mana data itu masih memenuhi kebutuhan dari segi kedalaman analisa dan juga kisaran biaya yang masih bisa terjangkau untuk negara tersebut.

Apa perbedaan jumlah sampel yang banyak dan sedikit?

Dari segi sampling error atau standar deviasi itu enggak akan beda jauh. Bedanya adalah kebutuhan analisisnya untuk mewakili demografis yang lebih rinci seperti usia dan pekerjaan.

Dengan semakin besar sampelnya, kalau kami punya sampel 5.000 atau 10.000, kebutuhan untuk menganalisis segmen yang kecil akan masih terpenuhi. Tergantung kebutuhan analisisnya.

Berarti, boleh dibilang sampel 2.273 itu cukup untuk industri TV di Indonesia? Pernahkah Nielsen berniat untuk menambah jumlah sampel?

Pada saat ini seperti itu. Jadi ada beberapa kesempatan Nielsen pernah, misalnya, mengajukan untuk penambahan jumlah sampel dengan menambahkan juga kover area dari 11 kota sekarang menjadi ada kota-kota tambahan.

Tetapi kembali lagi, pasti dengan adanya penambahan ini akan ada penambahan biaya. Nah, itulah tadi yang saya kembalikan ke industri. Jadi, ternyata pasar merasa ini tidak prioritas dan, menurut mereka, penambahan biayanya tidak sesuai, misalnya.

Jadi semua kami kembalikan. Segala sesuatu yang kami lakukan, kembali lagi, disetujui lagi atau tidak oleh pengguna datanya.

Apa bisa dikatakan industri televisi tidak mau mengembangkan penelitian rating lebih lanjut seperti pada negara lain?


Hmmm (sambil menganggukkan kepala).

Siapa yang membiayai perhitungan rating itu? Apa ada campur tangan pemerintah?

Di setiap negara juga berbeda-beda. Di beberapa negara ada yang melibatkan pemerintah untuk melakukan dan membiayai, misalnya di Korea.

Lalu, di Australia ada komite industri gabungan, jadi stasiun televisi dengan agensi media itu menunjuk suatu badan untuk mengatur siapa yang akan menjadi penyelanggaranya, biayanya berapa dan sebagainya.

Tetapi di banyak negara, Nielsen berurusan secara langsung dengan stakeholder-nya: stasiun televisi, agensi media, rumah produksi dan pengiklannya juga.

Di Indonesia kami berurusan langsung. Pemerintah tidak ikut.

Siapa saja yang menjadi klien Nielsen untuk rating televisi?

Kalau televisi nasional berjaringan semuanya, tapi kalau yang TV lokal banyak yang belum. Setiap pukul 10.00 WIB kami mengirim data rating hari sebelumnya ke klien.

Berapa biaya yang dikeluarkan untuk menjadi klien Nielsen mendapatkan rating? Apa semua stasiun televisi membayar harga yang sama?

Ha-ha-ha, itu rahasia. Nah, bayarnya tidak sama, karena TV yang baru akan bilang, ‘Harga gue enggak bisa sama dong, gue kan baru, kan masih kecil, gue kan belum jualan. Gue satu tahun pertama enggak bisa jualan lho. Jangan disamakan dong harganya sama yang gede-gede yang udah 27 atau 28 tahun, mereka sudah stabil.’

Fair memang. Kami terima. Memang harganya tidak sama.

Apakah harga itu akan mengalami kenaikan?

Kami kontraknya per tahun. Pada dasarnya akan naik. Semua setiap tahun akan mengalami kenaikan harga yang sama.

Karena begini, ada banyak hal yang tidak disadari oleh industri. Jadi, misalnya kadang-kadang yang terpikir adalah ‘Wah jumlah sampelnya Nielsen kan cuma segitu-segitu saja kenapa harus menaikkan harga?'

Kenaikan harga itu, untuk menutup biaya-biaya misalnya, walaupun jumlah sampelnya sama, tetapi jumlah TV yang ada di rumah panel itu bertambah. Jadi walaupun jumlah panelnya sama, tapi jumlah TV yang dihitung itu bertambah terus.

Itu adalah investasi yang harus dilakukan. Harus kami kover dari kenaikan harga setiap tahun.

Selanjutnya, kami harus tetap mengikuti perkembangan teknologi. Alat people meter-nya harus diubah harus sesuai TV yang terbaru. Jadi harus kami upgrade.

Nah setiap perubahan jaringan dari 2G, 3G, 4G, kami juga harus mengubah alat kami supaya datanya tetap bisa ditarik.

Apakah publik bisa mengakses data rating Nielsen atau jutru data itu rahasia?

Kami tidak merahasiakan untuk publik selama jelas kepentingannya untuk apa, misalnya untuk penelitian di universitas, kami akan bantu.

Tapi berdasarkan kontrak dengan klien bahwa data yang kami berikan hanya untuk penggunaan klien tersebut di perusahaannya, bukan untuk dibagikan ke orang lain. Jadi, kalau klien kami mau membagikan datanya itu harus atas seizin Nielsen.

Karena, stasiun TV agak sensitif kalau kami membagikan hal-hal seperti itu. Misalnya, dulu kami suka membagikan data, misalnya top program berdasarkan rating. Tentu yang akan menjadi top 10 itu semuanya sinetron.

Sementara ada stasiun TV yang hanya menyiarkan berita, mereka tidak akan pernah masuk ke dalam top 10. Sehingga jadi hal yang sensitif karena susah membandingkan di antara mereka karena mereka punya spesialisasi sendiri.

Sehingga kalau kami mau mempublikasikan data yang sifatnya sangat general seperti itu menjadi hal yg kurang tepat. Jadi kami berusaha supaya fair kepada semua orang, sebaiknya kami tidak membagikan data karena akhirnya menjadi debat kusir yang tidak penting.

Di negara lain, apa seperti itu juga?

Kalau di Amerika sepertinya ada ya. Tapi, saya rasa itu juga sudah memang ada kesepakatan tergantung konsesus di masing-masing negara.

Sederhanya bagaimana cara menghitung rating dan share yang jadi patokan siaran televisi Indonesia?

Rating itu adalah jumlah penonton suatu siaran atau program di bagi populasi televisi. Kalau share adalah jumlah penonton suatu program dibagi jumlah orang yang pada saat itu sedang menonton tv.

Kalau rating, pembaginya total seluruh penonton dan share hanya orang yang sedang menonton saja. Rating dipakai ketika membandingkan program yang tayang pagi, siang dan malam karena pembaginya konstan jadi apple to apple.

Kalau share digunakan pada saat yang sama misalnya mau membandingkan peforma suatu siaran dengan stasiun kompetitor di jam yang sama.

Kenapa program sinetron memiliki rating yang tinggi?

Sinetron itu kan beda sama variety show. Kalau variety show walaupun ditayangkan setiap hari bintang tamunya berbeda-beda, jadi kesinambungan dari hari Senin ke Selasa ke Rabu lebih longgar.

Kalau sinetron itu diikat dengan cerita sehingga pemirsa cenderung akan mengikuti dan menyebabkan tipe program seperti sinetron itu lebih bertahan lama karena ada ikatan dengan audiens.

Sebenarnya, hal apa saja yang mempengaruhi rating?

Yang mempengaruhi rating itu banyak sekali. Ada durasi program karena rating itu dihasilkan setiap menit. Kalau punya program 15 menit dan yang lain 60 menit, tentu menjaga pemirsa untuk 15 menit itu lebih gampang dibandingkan dari pada menjaga pemirsa untuk 60 menit. Semakin panjang tentu makin sulit mendapatkan rating yang tinggi.

Kemudian program pesaing. Misalnya performa biasanya 20 persen, tapi kalau ada final bola bisa habis.

Jadwal tayang, karena potensial pemirsanya berbeda-beda. Rating yang pagi dibandingkan rating yang prime time, biar bagaimanapun juga pasti akan lebih tinggi rating yang prime time karna potensial pemirsanya lebih besar.

Jadi program nomor satu di pagi hari ratingnya, belum tentu lebih tinggi dari program nomor lima di prime time.

Lalu ada momentum seperti kerusuhan, Pilkada, dan debat Capres-Cawapres.

Dan kualitas gambar, karena masih analog, penerimaan gambar di masing-masing rumah itu pasti berbeda. Televisi yang buram tidak akan ditonton biarpun programnya bagus.
[Gambas:Video CNN]