Produser 'Posesif' Menjawab Polemik Nominasi FFI 2017

Puput Tripeni Juniman , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 14:20 WIB
Produser 'Posesif' Menjawab Polemik Nominasi FFI 2017
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski belum dirilis di jaringan bioskop komersial, film Posesif mampu memikat hati panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2017 dengan menyabet 10 nominasi Piala Citra tahun ini.

Tak ayal, raihan nominasi film yang dibintangi Adipati Dolken dan Putri Marino itu memicu polemik di industri perfilman Indonesia. Posesif dianggap tidak memenuhi syarat sebagai nomine FFI 2017 lantaran belum resmi beredar.

Belum lagi, saat tanggal nominasi FFI 2017 diumumkan, Kamis (5/10), film itu sebenarnya belum memiliki Surat Tanda Lulus Sensor (STLS). Ia pun dianggap ilegal. Dari laman resmi Lembaga Sensor Film (LSF) memang film itu baru mendapat STLS pada 6 Oktober.


Produser Posesif Meiske Taurisia pun angkat bicara soal polemik yang terjadi. Ia menegaskan, filmnya sudah memenuhi persyaratan dan bisa mengikuti proses seleksi FFI 2017.

"Kami sudah dinyatakan memenuhi kualifikasi FFI dan semua asosiasi profesi perfilman berhak memberikan rekomendasi untuk film ini," kata Meiske saat penayangan film Posesif untuk media di Jakarta, Kamis (12/10).

Posesif memang belum masuk jaringan bioskop besar. Film cinta remaja itu baru di rilis 26 Oktober mendatang. Meski demikian, Posesif sudah diputar di jaringan bioskop mikro seperti Kineforum, Kinosaurus dan Cine Space di Jakarta dan Tanggerang pada September lalu.

[Gambas:Youtube]

Panitia FFI menyatakan penayangan itu sudah terhitung sebagai penayangan publik.

"Kami hanya memberikan batasan waktu kepada film yang sudah di putar di Indonesia, baik itu di bioskop, festival film, atau pemutaran secara khusus antara tanggal 1 Oktober 2016 sampai 30 September 2017," kata ketua dewan juri FFI Riri Riza pada malam pengumuman nominasi FFI, Kamis (5/10).

Sebelumnya pun sudah ada beberapa film yang belum tayang di bioskop komersial tapi masuk nominasi FFI, bahkan keluar sebagai pemenang. Siti misalnya, baru masuk festival-festival dunia tapi belum tayang di bioskop Indonesia saat memenangi Film Terbaik FFI 2015.


Meiske menampik anggapan bahwa dirinya sengaja menayangkan Posesif di bioskop mikro sebelum film itu lulus sensor, demi mengejar masuk FFI. Dia mengaku sudah merencanakan penayangan itu dari jauh-jauh hari karena terbiasa memasarkan film indi.

"Saya inisiator kolektif yang membantu distribusi film indonesia di komunitas film. Sudah lima tahun lalu, jadi ini sudah direncanakan," tutur Meiske.

Soal STLS, Meiske berpendapat bahwa itu merupakan administrasi yang baru keluar belakangan. Meiske menyatakan Posesif sudah lulus sensor sejak awal September lalu.

Kru film Posesif. Kru film Posesif. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
"Kami sudah masukkan ke Lembaga Sensor Film sejak bulan Juli. Sudah melakukan audiensi dengan revisi minor pada 22 Agustus. Awal September sudah dinyatakan lulus sensor dengan batasan umur 13 tahun ke atas. Tapi, suratnya baru keluar 6 Oktober," kata Meiske.

Meiske mengibaratkan hal ini sama dengan mahasiswa yang sudah dinyatakan lulus, namun belum menerima ijazah. "Kalau sudah lulus pasti sudah mulai melamar kerja kan, ya walaupun belum ada ijazahnya," ujar Meiske.

Posesif merupakan film yang bergenre drama menegangkan atau romance suspense. Film yang disutradari Edwin ini berkisah tentang kisah cinta remaja yang pelik karena posesif.


Film ini berhasil menjadi nomine di 10 kategori dari 18 kategori untuk film panjang termasuk film terbaik.

Dua bintang utama yakni Adipati Dolken dan Putri Mirano serta dua pemeran pembantu yakni Yayu Unru dan Cut Mini juga diunggulkan untuk meraih Piala Citra tahun ini.

Edwin sendiri sebelumnya dikenal punya banyak film kelas festival, seperti Postcards from the Zoo, Babi Buta yang Ingin Terbang, dan The Fox Exploits the Tiger's Might.