FOTO: Rona Lestari Payung Geulis

ANTARA FOTO/Adeng Bustomi, CNN Indonesia | Jumat, 24/11/2017 11:15 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Lenggak-lenggok penari di Tasikmalaya, Jawa Barat mengenakan Payung Geulis. Itu membuat gerakan kompak mereka lebih cantik dan merona.

Pertunjukan seni tari di Tasikmalaya, Jawa Barat tampak cantik dengan Payung Geulis. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/17.
Payung Geulis memiliki rangka bambu. Rangka itu dirangkai dan dipasang kain serta kertas sebelum dirapikan menggunakan kanji. Lalu payung setengah jadi itu dilukis dengan berbagai warna dan corak. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Payung itu pernah populer di sekitar tahun 1960 sebagai alat pelindung panas dan hujan. Kala itu hampir seluruh penduduk di Panyingkiran berprofesi sebagai perajin payung. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Namun masa keemasan Payung Geulis tak berlangsung lama. Sejumlah sumber menyebutkan era Payung Geulis meredup karena pemerintah membuka diri untuk barang impor pada 1968. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Payung Geulis mulai bergeliat kembali pada 1980 dan dikenal bukan lagi sebagai alat pelindung namun lebih sebagai barang kerajinan untuk hiasan rumah. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Payung Geulis memiliki berbagai ukuran dari 20 hingga 60 centimeter dan kini dikenal sering digunakan sebagai pelengkap penampilan artis tradisional maupun sebagai unsur desain dalam dan luar ruang. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Payung Geulis memiliki motif hias geometris dengan bentuk bangunan maupun nongeometris yang diambil dari bentuk alam. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Payung Geulis masih dilestarikan salah satunya oleh Aah (72), perajin Payung Geulis di Panyingkiran, Kota Tasikmalaya. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Meski dikenal luas dan permintaan payung semakin meningkat, namun menurut Aah pendapatan perajin payung tidaklah besar. Hal ini membuat generasi muda di kampung itu termasuk anak Aah memilih pekerjaan lain dari pada meneruskan tradisi keluarga. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)