Ernest Gambarkan Konflik Ibu dan Anak di 'Susah Sinyal'

Agniya Khoiri , CNN Indonesia | Rabu, 06/12/2017 16:48 WIB
Ernest Gambarkan Konflik Ibu dan Anak di 'Susah Sinyal' Cuplikan film terbaru Ernest Prasaka, 'Susah Sinyal' telah rilis. Film tersebut menggambarkan konflik ibu dan anak di tengah pedalaman Sumba. (Dok. Starvision)
Jakarta, CNN Indonesia -- Cuplikan film terbaru Ernest Prakasa, Susah Sinyal resmi dirilis. Cuplikan berdurasi dua menit tujuh detik itu menampilkan konflik antara Ellen (diperankan Adinia Wirasti) dan Kiara (Aurora Ribero) sebagai ibu dan anak.

Sibuk dengan berbagai macam kasus besar yang dItangani, Ellen yang berprofesi sebagai pengacara sulit meluangkan waktu untuk putri semata wayangnya. Oma Agatha (Niniek L. Karim) hanyalah satu-satunya orang yang kerap memperhatikan dan mengurus Kiara.

Ellen lantas sadar ia perlu berusaha menjalin kembali komunikasi yang sudah renggang dengan Kiara. Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi tempat yang dipilih dengan harapan ikatan ibu-anak ini bisa kembali seperti sedia kala.


Namun di tengah usaha rujuk dengan sang anak, konflik lain harus dihadapi setibanya mereka di Sumba.

Sebagai anak millenial, kehidupan Kiara di Sumba tampak terhambat lantaran sinyal komunikasi yang terbatas. Begitu juga Ellen yang butuh sinyal untuk mengurus pekerjaannya.

Bukan cuma Ernest, Adinia, dan Aurora, film Susah Sinyal menggandeng sejumlah nama selebrita, seperti Valerie Thomas, Asri Welas, Refal Hady, Gisella Anastasia, Gading Marten, Dodit Mulyanto, Aci Resti, hingga Darius Sinathrya.

[Gambas:Youtube] 

Sukses menggarap Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan dan Cek Toko Sebelah, Ernest kembali duduk sebagai sutradara, penulis skenario, sekaligus pemain di Susah Sinyal.

Ernest tampak makin kukuh di dunia film setelah Cek Toko Sebelah belum lama ini meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia 2017 untuk kategori Penulis Skenario Asli Terbaik.

Kala ditemui Oktober lalu, Ernest sempat mengungkapkan penggarapan film Susah Sinyal dibuat berdasarkan cita-citanya membuat film di kawasan timur Indonesia.


Keinginan itu dimulai sejak ia pergi liburan ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada 2016.

"Februari kemarin main ke Sumba, ini tempat luar biasa banget terus mulai mikirin ide cerita. Kebetulan Februari sedang mulai godok buat film ketiga, jadi akhirnya bikin filmnya tentang keresahan saya sebagai seorang bapak yang kadang-kadang terlalu sibuk untuk anak," katanya.

"Film tentang seeorang yang berusaha punya waktu untuk anaknya. Premis dasarnya itu." (end)