"Ya, kami berharap untuk itu. Sudah waktunya untuk Indonesia. Kami berharap pada komikus Indonesia agar bisa membuat karakter yang berkaitan dengan budaya atau tradisi Indonesia," kata Cebulski di Jakarta, Jumat (12/1).
Cebulski menilai komikus Indonesia memiliki gaya yang unik. Ia menjadikan Ario Anindito, Miralti Firmansyah, Yasmine Putri dan Sunny Gho yang bekerja untuk Marvel sebagai contoh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Bos Marvel Rencanakan Film Lepas Black Widow |
Mereka, kata Cebulski, bisa bertahan di Marvel karena menggambar dengan detail dan mewarnai komik dengan gaya masing-masing. "Itu yang saya suka, bagaimana seorang komikus bisa menciptakan gayanya sendiri," kata Cebulski.
Cebulski menjelaskan, Marvel selalu membuka pintu bagi komikus dari berbagai negara. Mereka yang punya potensi hanya harus berjalan ke pintu itu.
Dalam kesempatan yang sama, Sunny membagikan pengalamannya bekerja dengan Marvel. Ia sudah dinaungi perusahaan pembuat karakter Avengers itu sejak 2009. Saat pertama dites kerja, kata Sunny, ia diminta mewarnai komik Wolverine sebanyak delapan halaman.
"Setelah tes itu saya baru diajak untuk mengerjakan proyek yang lebih besar. Pasti senang banget, karena waktu itu belum ada orang Indonesia yang bekerja di Marvel,” ungkapnya.
Sampai saat ini Sunny sudah terlibat dalam pembuatan beberapa komik Marvel, di antaranya Civil War 2, Star Wars dan Secret Empire. Tak hanya mewarnai, ia juga menggambar komik.
Berdasarkan pengalaman bekerja di Marvel, ia yakin komikus Indonesia bisa membuat karakter baru lengkap dengan alur cerita. "Paling nanti dibantu Marvel untuk menyesuaikan gaya bahasa, supaya nyambung sama semua pembaca," kata Sunny.
Sejauh ini, karakter-karakter pahlawan super Marvel memang tidak Amerika-sentris. Captain China misalnya, karakter yang diciptakan mengimbangi Captain America. Dengan memiliki karakter pahlawan super dari negara lain, Marvel juga mengembangkan pasar ke daerah itu. (rsa)