Kali ini, anugerah tersebut diberikan untuk episode bertajuk Berdamai dengan Maut di Kaseralau karya Rivo Pahlevi Akbarsyah dan Hanggoro Mukti yang dipublikasikan pada 10 Oktober 2017 lalu.
Kepada CNNIndonesia.com, Rivo menceritakan tentang perjalanan ke Desa Kaseralau yang terletak di Kecamatan Batu Lappa, Kabupaten Pinrang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Lima Rekomendasi Film Akhir Pekan |
"Waktu riset kami hanya tahu ada sebuah desa yang aksesnya sangat buruk, tapi tak menyangka kalau tebingnya setinggi 400 meter. Jadi kami hanya diberi tahu kalau ada tebing yang tingginya enam kali tangga kayu, jadi harus melewati tangga itu untuk keluar masuk desa," tuturnya, saat ditemui di Gedung Trans TV, Jakarta, Jumat (26/1).
"Sebenarnya aksesnya bukan itu saja, tetapi ini yang paling cepat dan paling sering dilalui warga. Akses lain bisa berputar sehari, jadi kalau mau cepat asal tahan dengan maut saja," tambah Manyus Pagar Alam, selaku Produser Eksekutif Indonesiaku.
Lihat juga:Ulasan Film: 'Dilan 1990' |
Selain mencoba akses desa menggunakan anak tangga, tim produksi turut menyeberangi sungai dengan lebar 70 meter dan kedalaman satu sampai 10 meter yang biasa dilewati para siswa menuju sekolah di desa lain.
Dalam tayangan berdurasi sekitar 20 menit itu, mereka juga melalui akses berupa jalan setapak di tepi jurang menggunakan sepeda motor dengan biaya Rp350-500 ribu untuk sekali perjalanan. Perjalanan itu pun belum termasuk meluncur dari ketinggian 20 meter untuk menumpang motor lainnya karena akses yang terputus.
"Sebenarnya hampir seluruh episode Indonesiaku mengkritisi hambatan apa yang membuat masyarakat tidak sejahtera, entah infrastrukturnya, pendidikan, kesehatan. Utamanya menyorot kendala kenapa mereka miskin," ungkap Rivo lebih lanjut.
Diceritakan Manyus, program yang tayang setiap Senin-Selasa pukul 18.45 WIB ini merupakan program semi dokumenter.
"Awalnya paradoks ya, seperti daerah kaya tapi rakyatnya miskin, daerah tambang, rakyatnya miskin, daerah penghasil aspal, tapi daerahnya tidak teraspal. Tentang kemiskinan, terisolir tidak punya akses, program untuk mengkritisi pembangunan, kebijakan pemerintah. Banyak daerah tidak punya akses, tidak punya pembangunan," tambahnya.
Sebelum meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2018, program Indonesiaku telah mendapatkan penghargaan yang sama pada 2012 dan 2016. (res)