'Mirasantika' dalam Keluarga Raja dan Ratu Dangdut

ANTARA, CNN Indonesia | Sabtu, 17/02/2018 09:31 WIB
'Mirasantika' dalam Keluarga Raja dan Ratu Dangdut Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bukan gula-gula, melainkan sabu-sabu yang ditemukan di rumah menantu anak pedangdut legendaris, Elvy Sukaesih.

Elvy yang mendapat gelar sebagai Ratu Dangdut, seakan bernasib sama dengan sang Raja Dangdut, Rhoma Irama, yang anggota keluarganya juga terciduk kasus narkoba.

Tepat tiga minggu setelah Ridho Rhoma bebas dari masa tahanan dan rehabilitasi narkoba pada 25 Januari lalu, tiga anak plus menantu serta tunangan anak Elvy justru ditangkap dan ditahan per 16 Februari 2018 karena juga terlibat narkoba.


Lima anggota keluarga Elvy itu adalah Dhawiya Zaida dan dua kakaknya, Syehan dan Ali Zaenal Abidin, plus Chauri Gita (istri Syehan) dan Muhammad (tunangan Dhawiya) diciduk polisi saat mengonsumi narkobadi tempat tinggal mereka.

Anggota Subdirektorat I Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya pimpinan Ajun Kombes Pol Jean Calvin selain menangkap mereka, juga menyita barang bukti narkoba jenis sabu-sabu, alat hisap sabu-sabu bekas pakai, dua bong, sembilan cangklong kaca, empat selang plastik, satu telepon selular, satu plastik berisi sedotan, satu gulung aluminium foil, alat timbangan digital, buku tabungan atas nama Dhawiya, dan satu kotak berisi alat hisap sabu-sabu.

Kasus yang menimpa keluarga Raja dan Ratu Dangdut ini tentu mengejutkan publik, mengingat sosok Rhoma dan Elvy yang berhasil menjaga citra baik dan reputasinya sebagai penyanyi terkemuka hampir setengah abad ini di mata pecinta musik dangdut di Tanah Air dan mancanegara.

Rhoma dan Elvy menjadi panutan serta inspirasi hampir semua penyanyi dangdut di Indonesia, sehingga keduanya dijuluki sebagai Raja dan Ratu Dangdut sepanjang masa.

Sepanjang karir dan kehidupannya, mereka bersih bersih dari jerat narkoba. Sayangnya, anggota keluarga mereka tak kuasa melindungi diri dari pengaruh barang haram yang makin merajalela itu.

Ridho saat keluar dari masa tahanan dan rehabilitasi mengaku tak akan membuat orang tuanya menangis lagi serta tobat dari narkoba yang membuat dia ditangkap polisi pada 25 Maret 2017 di sebuah hotel di Jakarta Barat.

Kini justru Dhawiya, Syehan, Ali, Chauri, dan Muhammad, yang membuat Elvy menangis.

Kesedihan, keharuan, keprihatinan terasa membuncah atas kasus mereka namun perang terhadap penyalahgunaan narkoba telah menjadi komitmen kuat pemerintah bersama penegak hukum dan masyarakat.

Balada keluarga Raja dan Ratu Dangdut karena terlibat narkoba ini memperpanjang deretan pengungkapan berbagai kasus penyalahgunaan narkoba.

Penyalahgunaan narkoba memang rawan terjadi di kalangan para pesohor (selebritas) dan keluarganya. Mereka menjadi target pasar dari para pengedar dan bandar narkoba.

Sebelumnya pada hari yang sama di tempat yang berbeda, aktris sekaligus model Roro Fitria dan aktor Fachri Albar (anak penyanyi rock legendaris Ahmad Albar) ditangkap polisi pada 14 Februari 2018 karena narkoba.

Ironisnya Roro merupakan duta Anti-narkoba sementara Fachri pada 2008 juga pernah ditangkap karena kasus serupa.

Mundur waktu sedikit lagi, artis Jeniffer Dunn ditangkap di rumahnya pada malam menjelang pergantian tahun 2018.

Dia harus menjalani hukuman penjara untuk ketiga kalinya, setelah pernah ditahan pada 2005 dan 2009 dengan kasus yang sama, terjerat narkoba.

Begitu pula aktor Tio Pakusadewo dicokok polisi di rumahnya pada 19 Desember 2017. Ironisnya Tio telah lama mengonsumsi narkoba.

Narkoba di kawasan bebas narkoba

Penyalahgunaan dan peredaran narkoba tidak hanya menyasar kalangan pesohor, tetapi juga berbagai lapisan masyarakat dari beragam strata, profesi, dan status sosial, serta di banyak tempat.

Meskipun di banyak tempat terlihat tulisan kawasan yang terbebas dari narkoba, penyalahgunaan dan peredaran narkoba merebak di mana-mana.

Data akhir tahun dari BNN menyebutkan bahwa sejak Januari hingga Desember 2017, BNN mengungkap 46.537 kasus narkoba.

Sebanyak 79 orang yang menjadi tersangka kasus narkoba, tewas tertembak petugas karena melawan saat dilakukan penindakan.

BNN juga mendapati 27 kasus tindak pidana pencucian uang yang bersumber dari kejahatan narkoba.

Dari kasus tersebut telah diamankan 58.365 tersangka kasus narkoba dan 34 tersangka tindak pidana pencucian uang.

Barang bukti narkoba yang dikumpulkan oleh BNN, Polri, dan Ditjen Bea Cukai terdapat sabu-sabu sebanyak 4,71 ton, ganja 151,22 ton, dan ekstasi sebanyak 2.940.748 butir.

Barang bukti dari tindak pidana pencucian uang berupa aset dalam bentuk kendaraan bermotor, properti, tanah, perhiasan, uang tunai, dan uang dalam rekening yang berhasil disita BNN mencapai Rp105 miliar.

Data sepanjang 2017 itu meningkat dibandingkan dengan pada 2016 yang menyebutkan 196 tersangka ditangkap dengan barang bukti sekitar 990 kilogram sabu-sabu, 3,051 ton ganja, dan 616.534 ekstasi.

Kondisi Indonesia darurat narkoba telah didengungkan oleh berbagai petinggi negeri ini sejak 2016.

Bahkan, Presiden Jokowi pada acara pemusnahan barang bukti narkoba di Monas, Jakarta, pada 6 Desember 2016, antara lain mengungkapkan bahwa sekitar 15 ribu jiwa generasi muda meninggal dunia setiap tahun atau 40 hingga 50 orang per hari karena menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Sementara pada tahun ini hingga saat konferensi pers oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 7 Februari lalu, Ditjen Bea dan Cukai bekerja sama dengan BNN telah membongkar tiga kasus penyelundupan narkotika di Aceh dan Sumatera Utara.

Dari ketiga kasus yang telah diungkap pada Januari 2018 tersebut, petugas gabungan berhasil mengamankan lebih dari 110,84 kilogram sabu-sabu dan 18.300 butir ekstasi.

Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso menyatakan pemerintah telah berhasil menyelamatkan lebih dari 570 ribu masyarakat dari ancaman penyalahgunaan narkoba dari ketiga penindakan tersebut.

Ditjen Bea dan Cukai telah mengungkap 49 kasus penyelundupan narkotika dengan total berat barang bukti mencapai 201,2 kilogram hingga Februari 2018.

Kasus narkoba memang merupakan balada tetapi tidak cukup hanya meratapi dan memprihatinkan kasus-kasus yang terungkap. Hal terpenting adalah memerangi narkoba karena merupakan ancaman terbesar yang melemahkan kekuatan bangsa ini.

[Gambas:Youtube]

(ard)