Dia mesti dipapah atau dibantu kursi roda. Berbicara pun terbata-bata.
Namun, Waldjinah masih bisa dengan lancar menyanyikan Walang Kekek dengan suaranya yang khas. Tak salah jika gelar Ratu Keroncong disematkan pada wanita asal Solo itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waldjinah memulai kariernya pada 60 tahun lalu saat mengikuti kontes Ratu Kembang Katjang di Solo, Jawa Tengah. Suara merdu Waldjinah yang banyak berlatih kala mendengar alunan musik Jawa saat menemani ayahnya bekerja mencap batik, berhasil memikat para juri.
"Saya juara, saya paling kecil sendiri dan menjadi Ratu Kembang Katjang," kata Waldjinah di Jakarta, beberapa waktu lalu. Saat itu ia membantu pagelaran busana Anne Avantie.
Perlombaan menyanyi Ratu Kembang Katjang itu membuka jalan bagi karier Waldjinah cilik. Bakatnya mulai dikenal dan dilirik dapur rekaman serta Radio Republik Indonesia (RRI).
Waldjinah sampai berhenti sekolah. Alasannya terimpit masalah ekonomi. Mumpung ada rezeki, ia manfaatkan untuk mencari uang. Cita-citanya menjadi seorang sekretaris pun ia korbankan. Waldjinah kemudian bekerja menjadi penyanyi honorer di RRI.
Foto: Tong Tong Fair/Festival/WikimediaWaldjinah bersama Orkes Keroncong Bintang Surakarta di Tong Tong Fair |
Waldjinah remaja terus menggali diri dengan mengikuti berbagai perlombaan. Dari Solo, Waldjinah mengembangkan sayapnya dengan mengikuti perlombaan tingkat Nasional ke Jakarta.
Pada 1965, Waldjinah menjadi juara Bintang RRI. Ketika itu, dia sedang mengandung delapan bulan.
"Ada yang bilang, 'perut gede kok jadi bintang radio.' Saya kepengen saja waktu itu karena ada hadiah dari Presiden Soekarno," ucap Waldjinah.
Waldjinah Sang Ratu Keroncong kini bicaranya terbata dan jalannya harus dipapah. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman) |
Lagu itu populer di masanya dan melegenda hingga saat ini. Walang Kekek yang bercerita tentang perempuan itu juga merupakan lagu yang paling disukai Waldjinah sepanjang kariernya.
"Favorit saya Walang Kekek dan juga Yen Ing Tawang," ujarnya. Yeng Ing Tawang merupakan lagu pertama yang dikeluarkan oleh Waldjinah.
Selain membuat lagu sendiri, Waldjinah juga berkolaborasi dengan musisi-musisi andal lainnya seperti Mus Mulyadi, Gesang, Andjar Any, dan Ismail Marzuki.
Tercatat hingga saat ini Waldjinah sudah merilis lebih dari 200 album dan 1.500 tembang. Konsistensi Waldjinah pada musik Keroncong membuatnya mendapat julukan Ratu Keroncong.
Kini, Waldjinah yang merupakan ibu dari lima anak, nenek dari delapan cucu dan memiliki tiga cicit ini juga menjaga kondisi tubuhnya dengan makanan yang sehat dan rutin pijat sekali dalam dua pekan.
Di hari tuanya, Waldjinah masih aktif bernyanyi keroncong dari pentas ke pentas. Dia juga mengisi waktunya dengan mendirikan sekolah musik keroncong di rumahnya di Solo.
"Sekarang muridnya ada 20 orang dari SD, SMP, SMP," kata Waldjinah yang lahir pada 7 November 1945 itu.
Menurut Waldjinah, musik keroncong saat ini masih digemari oleh banyak orang. Hanya saja, dia mengkritik banyak media yang tak mengangkat musik keroncong.
"Sekarang maju tapi saya lihat dari TV kok tidak ditayangkan. Itu harusnya ditayangkan. Keroncong yang punya Indonesia, jangan kalah dengan Malaysia, saya takut kalau itu diambil luar," Sang Ratu Keroncong mengungkap kekhawatirannya. (rsa)
Foto: Tong Tong Fair/Festival/Wikimedia
Waldjinah Sang Ratu Keroncong kini bicaranya terbata dan jalannya harus dipapah. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)