Radio Kekinian di Tangan Tiga Penyiar Muda

Resty Armenia, CNN Indonesia | Minggu, 01/04/2018 12:58 WIB
Radio Kekinian di Tangan Tiga Penyiar Muda Tiga penyiar radio di Jakarta menyampaikan suka duka mereka saat menjalani profesinya selama ini. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyiar menjadi salah satu faktor utama penggerak industri penyiaran radio. Selama ini, mereka setia menemani para pendengar dengan membagikan informasi, melantunkan musik pilihan, hingga menampung cerita serta keluh kesah.

Eks penyiar 96,7 Hitz FM Adit 'Insomnia' mengaku selama ini sangat menikmati profesinya. Pria yang kini berusia 33 tahun ini senang karena kerap mendapat tiket gratis untuk menonton konser musik favoritnya.

"Karena saya suka musik, jadi bisa menonton konser, biasanya dapat tiket gratis. Lalu bisa wawancara artis-artis yang saya suka dan update musik-musik baru," ujar Adit saat bertandang ke kantor CNNIndonesia.com beberapa saat lalu.
Penyiar Trax FM Jakarta Davy Andry.Penyiar Trax FM Jakarta Davy Andry. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Sementara, penyiar Trax FM Jakarta Davy Andry mengatakan bahwa selama menjadi penyiar ia bisa merasakan banyak pengalaman seru, misalnya melancong di berbagai tempat di Indonesia dan bertemu dengan banyak orang.


"Dulu saya berpikir kesempatan-kesempatan keren itu hanya bisa tercapai jika saya sudah kaya, ternyata tidak. Ternyata untuk bertemu orang kaya tidak harus kaya dulu," katanya seraya terkekeh.

Davy pun menyebut kecilnya upah yang diterima para penyiar radio menjadi salah satu duka tersendiri. Ia bercerita bahwa dalam bayangannya dulu seorang penyiar radio adalah anak-anak muda yang kaya yang modis dan gemar nongkrong di tempat gaul.

"Pokoknya harus banyak uang untuk kerja di media. Nah ternyata begitu dicek, saya pertama kali siaran upahnya Rp10 ribu per jam dan saya siarannya dua jam. Total Rp20 ribu kan. Tapi ongkos kendaraannya Rp24 ribu, jadi saya tekor Rp4 ribu. Itu duka," ujarnya.
Suka Duka Penyiar Radio KekinianPenyiar OZ Radio Rizky Danto. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Menimpali Davy, penyiar OZ Radio Rizky Danto mengaku paling sering ditanya oleh teman-temannya yang tidak berkecimpung di dunia penyiaran radio mengenai pendapatan.

"Mereka suka bertanya pekerjaan saya apa. Lalu saya jawab, 'Penyiar radio.' Lalu mereka menyahut, 'Memangnya [bayaranmu] cukup buat hidup?' Jadi dukanya lebih ke kehidupan sosial. Tapi so far so good," katanya.

Danto juga menyinggung masalah teknis yang kerap menghantui para penyiar, misalnya jika peralatan siaran mengalami gangguan saat siarannya tengah berlangsung.

"Pernah waktu saya siaran listriknya mati, jadi harus menunggu sampai nyala, sekitar 15 menit. Akhirnya mood saya agak drop, padahal kan kami harus selalu menyapa pendengar dengan ceria ya," ujarnya.

Siaran Radio Masa Kini

Selama ini penyiar radio dengan lihai membawakan acara-acara mereka. Semua itu memerlukan persiapan, seperti menyusun skrip, menjaga suara hingga mengatur suasana hati.

Davy mengaku biasanya sehari sebelumnya ia menyiapkan skrip agar bisa berbicara lebih pendek namun kontennya lebih mengena, termasuk dengan punchline dan bridging. Selain itu, ia juga menyusun topik yang akan diulas.

"Misalnya dalam sejam saya empat kali ngomong, itu selalu saya kosongi satu buat jaga-jaga kalau ada topik mendadak yang harus diangkat hari itu. Sedangkan yang tiga saya biasanya cari bahan dan biasanya saya bikin lima kalimat," ujarnya.

Ia menambahkan, "Saya termasuk bukan penyiar bersuara bagus, jadi saya pernah disuruh lari keliling lapangan dan teriak-teriak sendirian sebelum siaran supaya punya pernapasan yang baik. Karena bagaimana pun begitu radio dinyalakan dan suara Anda mengganggu, ya kelar."
Eks penyiar 96,7 Hitz FM Adit 'Insomnia.'Eks penyiar 96,7 Hitz FM Adit 'Insomnia.' (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Sementara itu, Adit bercerita bahwa dulu ia sempat mendapatkan pelatihan membuat 10 berita di mana setiap berita harus dibaca selama 60 detik dan direkam menggunakan kaset pita.

"Jadi side A dan side B. Kalau side A penuh ya ditiban. Direkam lalu didengarkan sendiri. Akhirnya pelatihannya tidak lancar, maka seperti inilah hasilnya, kurang maksimal," ujarnya sambil tertawa.

Adit pun mengaku pernah siaran saat Tragedi AirAsia QZ8501 terjadi. Kala itu, bosnya langsung mengubah format siaran selama sepekan ke depan menjadi seperti radio berita.

"Semua lagu harus tone down dan suara penyiar tidak boleh ceria. Terutama di jam prime time harus memberikan info terbaru, jadi mau tak mau harus mencari data-data Basarnas, menelepon narasumber, dan lain-lain. Kalau memang ada hal yang perlu diangkat dan hangat dibicarakan ya langsung saya ulas," tuturnya. (res)




BACA JUGA