FOTO: Nestapa Rohingya Sentuh Nurani Juri Pulitzer Prize 2018

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 17/04/2018 15:51 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Juri Pulitzer Prize 2018 memberikan trofi kemenangan penghargaan jurnalistik bergengsi itu kepada Reuters usai menangkap nestapa warga Rohingya sejak 2015.

Asap membubung tinggi di perbatasan Myanmar ketika pengungsi Rohingya berjalan di pantai setelah melewati perbatasan Myanmar dan Bangladesh pada 11 September 2017. Eksodus besar-besaran warga Rohingya dari Myanmar ke sejumlah negara di sekitarnya menarik perhatian dunia. (REUTERS/Danish Siddiqui)
Tampak udara dari sisa-sisa desa warga Rohingya yang terbakar dekat Maungdaw, Rakhine utara, Myanmar, 27 September 2017. Sejumlah peneliti menduga warga Rohingya telah menjadi korban kekerasan, ghettoisasi, pembantaian sporadis, dan pembatasan pergerakan. (REUTERS/Soe Zeya)
Seorang petugas keamanan berupaya menertibkan pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar di pasar Cox, Bangladesh, 21 September 2017. (REUTERS/Cathal McNaughton)
Mohammed Shoaib, 7 tahun, tertembak di dadanya sebelum menyeberang perbatasan dari Myanmar pada Agustus. Pada 5 November lalu, ia dirawat oleh ayahnya di luar rumah sakit dekat Cox's Bazar, Bangladesh. (REUTERS/Adnan Abidi)
Hamida, seorang wanita pengungsi Rohingya, menangis ketika mengangkat mayat bayi laki-lakinya yang baru berusia 40 hari. Putranya meninggal di kapal ketika melarikan diri dari Myanmar dan tiba di Shah Porir Dwip, Teknaf, Bangladesh, 14 September 2017. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Daun sirih menutupi wajah mayat Abdul Aziz, bocah 11 tahun pengungsi Rohingya yang meninggal setelah menderita demam akut di pengungsian Balukhi, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 4 Desember 2017. (REUTERS/Damir Sagolj)
Orang-orang berkumpul di tengah hujan deras mengelilingi mayat pengungsi Rohingya yang diturunkan dari kapal pelarian mereka dari Myanmar. Mereka mendarat di Pantai Inani dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 28 September 2017. (REUTERS/Damir Sagolj)
Para pengungsi Rohingya berebut bantuan pangan yang diberikan di kamp pengungsian dekat Cox's Bazar, Bangladesh. Diperkirakan 25 ribu warga Rohingya eksodus menyelamatkan diri ke sejumlah negara sekitar Myanmar usai menjadi korban kekerasan dan proses genosida. (REUTERS/Cathal McNaughton)
Seorang pengungsi Rohingya tengah berjuang bertahan hidup karena menderita dehidrasi atau kehausan di tengah upaya menyelamatkan diri dari Myanmar. 2 November 2017. Di negaranya, warga Rohingya menjadi objek penganiayaan dan proses genosida oleh pemerintah Myanmar. (REUTERS/Hannah McKay)
Usai menyelamatkan diri dari Myanmar dengan mengendarai perahu, seorang wanita tiba di pantai di Shah Porir Dwip, Bangladesh pada 11 September 2017 dalam kondisi dehidrasi setelah berhari-hari terombang-ambing di lautan menghindari upaya genosida. (REUTERS/Danish Siddiqui)
Para pengungsi Rohingya berjalan kaki melewati pematang sawah di Cox's Bazar, Bangladesh, 2 November 2017, dalam upaya menyelamatkan diri dari upaya genosida dari pemerintah Myanmar. (REUTERS/Hannah McKay)
Meski hidup dalam nestapa dan keterbatasan, anak-anak pengungsi Rohingya masih berusaha untuk hidup ceria dengan bermain layangan di kamp Kutupalong dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 10 Desember 2017. (REUTERS/Damir Sagolj)


ARTIKEL TERKAIT