Taman Ismail Marzuki, 'Monumen' untuk Sang Maestro

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 26/05/2018 23:00 WIB
Taman Ismail Marzuki, 'Monumen' untuk Sang Maestro Sejak diresmikan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin pada 1968, Taman Ismail Marzuki menjadi lokasi yang identik dengan sang maestro kelahiran Jakarta itu. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kawasan di tepi Jalan Cikini Raya itu nyaris tak pernah sepi. Sejumlah bajaj bercat biru dan pedagang asongan menandakan kawasan tersebut adalah salah satu pusat keramaian di ibu kota.

Di sudut pintu masuk kendaraan, sebuah gapura penyambutan tertulis "Taman Ismail Marzuki".

Bangunan yang berlokasi di Jalan Cikini Raya nomor 73 itu bukan sembarang tujuan karyawisata anak sekolahan. Ia merupakan monumen mengenang seniman besar kelahiran Jakarta dan kebanggaan Indonesia, Ismail Marzuki.


Dibangun pada 1968 di atas lahan 10 hektar bekas Kebun Binatang Cikini dan halaman rumah seniman legendaris Raden Saleh, Taman Ismail Marzuki diprakarsai oleh Gubernur DKI kala itu, Ali Sadikin.

"Karena ini ada di Jakarta, harus seniman Jakarta yang namanya diabadikan," kata Imam Hadi Purnomo, Kepala Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, saat ditemui CNNIndonesia.com, Mei 2018.

Gubernur DKI Ali Sadikin kala itu memiliki sebuah visi untuk perkembangan kesenian di Jakarta. Ia menyadari para seniman berkumpul di beberapa lokasi yang terpencar di penjuru ibu kota yang kala itu tengah giat-giatnya membangun.

Beberapa lokasi itu adalah Cikini, Bulungan, dan Planet Senen.

Ali memimpikan sebuah pusat kesenian yang lengkap, mulai dari pendidikan, pelatihan, pengembangan, pencarian inspirasi, hingga penyajian, dan terpadu dalam satu lokasi sehingga mampu menjadi ikon dari Jakarta.

Imam Hadi Purnomo, Kepala Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail MarzukiImam Hadi Purnomo, Kepala Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Ia pun memilih Cikini sebagai lokasi pusat kesenian impiannya itu. Maka ia memindahkan kebun binatang yang 'nyempil' di tengah kota itu ke bagian selatan Jakarta yang kini dikenal dengan Ragunan yang masih banyak lahan kosong.

Kebun binatang peninggalan Batavia itu pun dibongkar dan dibangun sebuah kompleks kesenian dan ilmu pengetahuan seperti Planetarium, teater, galeri, pemutaran film, teater terbuka dan tertutup, serta Institut Kesenian Jakarta.

"Tadinya mau jadi landmark-nya Jakarta, cuma sudah awalnya jadi landmark, tiba-tiba disalip sama yang lain. Tadinya, ya, ada Planetarium, ada Teater Jakarta yang gedungnya megah, karena dahulu belum ada gedung-gedung yang lebih tinggi dibanding ini," kata Imam.

"Sempat ada empat kali perubahan master plan, pada 1998, 2002, 2008, dan 2014. Namun tetap isi bangunannya itu-itu saja," kata Imam.

Sejak dinamakan seperti maestro Ismail Marzuki, lokasi pusat kesenian ini kemudian menjadi identik dengan sang komponis kelahiran Kwitang 11 Mei 1914 itu.

Pun selepas Ismail Marzuki tiada pada 25 Mei 1958, nama sang maestro terpatri abadi baik secara fisik maupun citra dengan pusat kesenian ini.

Hingga pada 2008, pihak keluarga kemudian menyerahkan sebagian karya dan peninggalan Ismail Marzuki kepada pengelola TIM untuk disimpan.

"Kalau di catatan kami, tahun 2008 [diserahkan ke TIM]. Itu ada lima jenis barang, yang pertama itu ada biola beliau, ada arkodeon, kemudian ada jam dinding, album foto, dan yang kelima itu ada partitur lagu-lagu tulisan tangan beliau langsung," kata Imam.

Koleksi TIM peninggalan Ismail Marzuki, biola dan jam meja.Koleksi TIM peninggalan Ismail Marzuki, biola dan jam meja. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Koleksi berharga itu kemudian disimpan oleh pengelola TIM dalam tempat penyimpanan khusus bersamaan dengan ratusan koleksi seni dari berbagai seniman lainnya.

Imam pun mengakui bahwa dia dan timnya tengah mengupayakan pembenahan dan peningkatan penyimpanan agar mampu membuat peninggalan Ismail Marzuki dan karya seni lainnya lebih awet.

Ia juga mengatakan telah bekerja sama dengan Pusat Cagar Budaya Jakarta dalam menangani koleksi partitur lagu asli Ismail Marzuki. Rencananya, partitur tersebut akan digitalisasi namun Imam mengaku masih membutuhkan diskusi dengan para ahli.

"Tidak lama, lah, bulan-bulan depan sudah mulai. Kami tunggu ruangannya jadi dahulu," kata Imam. (end)