Di sudut pintu masuk kendaraan, sebuah gapura penyambutan tertulis "Taman Ismail Marzuki".
Bangunan yang berlokasi di Jalan Cikini Raya nomor 73 itu bukan sembarang tujuan karyawisata anak sekolahan. Ia merupakan monumen mengenang seniman besar kelahiran Jakarta dan kebanggaan Indonesia, Ismail Marzuki.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:'Badai' Keluarga Sepeninggal Ismail Marzuki |
Beberapa lokasi itu adalah Cikini, Bulungan, dan Planet Senen.
Ali memimpikan sebuah pusat kesenian yang lengkap, mulai dari pendidikan, pelatihan, pengembangan, pencarian inspirasi, hingga penyajian, dan terpadu dalam satu lokasi sehingga mampu menjadi ikon dari Jakarta.
Imam Hadi Purnomo, Kepala Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Kebun binatang peninggalan Batavia itu pun dibongkar dan dibangun sebuah kompleks kesenian dan ilmu pengetahuan seperti Planetarium, teater, galeri, pemutaran film, teater terbuka dan tertutup, serta Institut Kesenian Jakarta.
"Tadinya mau jadi landmark-nya Jakarta, cuma sudah awalnya jadi landmark, tiba-tiba disalip sama yang lain. Tadinya, ya, ada Planetarium, ada Teater Jakarta yang gedungnya megah, karena dahulu belum ada gedung-gedung yang lebih tinggi dibanding ini," kata Imam.
Sejak dinamakan seperti maestro Ismail Marzuki, lokasi pusat kesenian ini kemudian menjadi identik dengan sang komponis kelahiran Kwitang 11 Mei 1914 itu.
Pun selepas Ismail Marzuki tiada pada 25 Mei 1958, nama sang maestro terpatri abadi baik secara fisik maupun citra dengan pusat kesenian ini.
Hingga pada 2008, pihak keluarga kemudian menyerahkan sebagian karya dan peninggalan Ismail Marzuki kepada pengelola TIM untuk disimpan.
"Kalau di catatan kami, tahun 2008 [diserahkan ke TIM]. Itu ada lima jenis barang, yang pertama itu ada biola beliau, ada arkodeon, kemudian ada jam dinding, album foto, dan yang kelima itu ada partitur lagu-lagu tulisan tangan beliau langsung," kata Imam.
Koleksi TIM peninggalan Ismail Marzuki, biola dan jam meja. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Imam pun mengakui bahwa dia dan timnya tengah mengupayakan pembenahan dan peningkatan penyimpanan agar mampu membuat peninggalan Ismail Marzuki dan karya seni lainnya lebih awet.
Ia juga mengatakan telah bekerja sama dengan Pusat Cagar Budaya Jakarta dalam menangani koleksi partitur lagu asli Ismail Marzuki. Rencananya, partitur tersebut akan digitalisasi namun Imam mengaku masih membutuhkan diskusi dengan para ahli.
"Tidak lama, lah, bulan-bulan depan sudah mulai. Kami tunggu ruangannya jadi dahulu," kata Imam. (end)
Imam Hadi Purnomo, Kepala Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Koleksi TIM peninggalan Ismail Marzuki, biola dan jam meja. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)