Dimas menilai adanya unsur kedekatan antara pesan yang akan disampaikan, dengan masyarakat Indonesia sebagai target audiens iklan yang akan dibuat, menjadi daya tarik tersendiri.
"Nilai-nilai lokal Indonesia ini yang selalu saya sampaikan saat sesi khusus. Ambil nilai-nilai lokal, karena itu ciri khas dan insight kita," katanya kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di kediamannya di kawasan Ampera, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Kumpulan Iklan yang Berhasil Viral di 2018 |
Pria kelahiran 1973 itu mencontohkan, saat membuat iklan untuk produk sepatu boots, dia menggunakan rujukan tradisi yang dipercaya sebagian masyarakat di mana sepatu baru harus diinjak dulu.
"Kita bisa dengan mudah ngomongin, kalau sepatu baru itu diinjak, mudah banget kan. Semua pernah mengalami. Itu ciri khas kita dan memang mesti digali konten lokalnya yang besar. Risikonya? Orang bule enggak mengerti," katanya.
Dimas sendiri menyatakan tak pernah mengikuti apa yang menjadi daya tarik iklan di luar. Meski demikian, ia tak menampik bahwa ada beberapa iklan asing yang ia sukai.
"Saya tidak suka lawakan Bangkok. British cukup suka dengan dry joke-nya, tapi tidak kena di sini. Amerika tidak suka, India cukup suka juga dengan receh-recehnya. Tapi pada akhirnya, inspirasi datang dari orang Indonesia sendiri, orang lokal sendiri," katanya.
Meski telah menekuni bidang periklanan selama hampir 20 tahun, Dimas mengaku masih mencari formulasi tokcer dalam menciptakan pariwara yang disukai orang Indonesia seluruhnya.
"Bangkok sudah temukan bentuknya, Inggris sudah temukan dengan dry joke, India dengan ada unsur seksnya yang agak norak, tapi dicintai rakyat dan penontonnya," katanya.
Ia melanjutkan, "Indonesia juga harus begitu, bisa menggunakan lawakan lokal Indonesia, kan itu datangnya dari hal receh-receh, tukang ini, tukang anu, kasidah ini. Memang kayak misalnya kolosal itu sebetulnya meledek kolosal yang segitu hancurnya, tidak terkonsepnya film-film kolosal." (res)