Pada saat bersamaan ia ingin melakukan kegiatan di luar perkuliahannya dengan menjajal video blog tentang kehidupannya di Berlin, Jerman. Gita menilai kala itu tak banyak orang Indonesia yang berada di luar negeri dan mengunggah video ke YouTube.
Secara terbuka ketika berkorespondensi dengan CNNIndonesia.com, Gita mengatakan bahwa ia juga terinspirasi dari sosok Awkarin yang pada saat itu menjadi kontroversi akibat videonya yang dinilai terlalu 'hedon'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gita mengakui mendapatkan pelanggan sebanyak 100 ribu kurang dari setahun. Dan popularitasnya semakin menanjak kala banyak orang membicarakan dirinya dan konten yang ia buat di media sosial, seperti Instagram.
Namun niat Gita tak selamanya berbuah manis. Selama dua tahun terakhir aktif membuat konten di YouTube dan Instagram, ada sisi pahit dari status 'influencer' yang ia sandang. Belum lagi ada anggapan miring soal dirinya yang mahasiswi Kimia namun 'bekerja' sebagai seleb medsos.
[Gambas:Instagram]
"Saya jadi kehilangan ruang privat karena ada beberapa followers yang merasa berhak untuk ingin tahu kehidupan pribadi saya. Waktu luang bersama keluarga dan sahabat pun jadi berkurang," katanya.
Lihat juga:8 'Genre' Para Seleb Medsos |
"Saya jadi bisa mengenal diri saya lebih dalam, mencari tahu tujuan hidup saya, bertemu dengan orang-orang yang membantu saya mendapatkan sudut pandang baru dalam segala masalah dan itu semua sangat esensial untuk peningkatan kualitas diri saya. Ditambah lagi saya bisa membantu banyak orang dan melakukan hal-hal positif untuk orang lain," kata Gita.
View Bukan Segalanya
Walau terbilang 'anak kemarin sore' di dunia media sosial, Gita mengakui bahwa tantangannya dalam mewujudkan cita-cita memberikan konten positif adalah minat netizen.
"Dari hasil pengamatan saya, manusia memang naturalnya lebih suka melihat berita buruk atau pun sisi buruk dari apa pun itu. Entah suatu kejadian ataupun seseorang. Saya tidak belajar psikologi, jadi saya tidak bisa menjelaskan bagaimana teorinya," kata Gita.
"Mungkin buat sebagian orang, jumlah views adalah segalanya. Maka mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan itu. Tapi menurut saya hal itu enggak memberikan efek bagus ke pengguna internet," kata Gita.
"Kesannya internet itu adalah tempat yang suram yang hanya diisi oleh berita bohong, konten tidak mendidik, berita buruk. Padahal ada banyak sekali hal baik yang bisa diangkat," lanjutnya.
"Di Indonesia, bahkan di dunia, YouTube adalah platform video terbesar. Malah sekarang sudah banyak orang yang meninggalkan TV karena lebih tertarik menonton video di YouTube. Maka dari itu, idealnya seorang influencer harus aware terhadap pengaruh yang bisa mereka berikan kepada para netizen," kata Gita Savitri.
[Gambas:Instagram] (end)