Ulasan Film: 'Buffalo Boys'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 18:25 WIB
Ulasan Film: 'Buffalo Boys' 'Buffalo Boys' bercerita tentang masa penjajahan namun dibalut nuansa western. (Dok. Infinite Studios)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masa penjajahan Belanda menjadi salah satu sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Perbudakan, kerja paksa, hingga perampasan mewarnai kehidupan di masa itu.

Potret itu kemudian diadopsi oleh Mike Wiluan untuk membuat film fiksi tentang sejarah Indonesia yang dipadukan dengan genre klasik western dan diberi judul Buffalo Boys. Ia bertindak sebagai sutradara, produser, sekaligus penulis naskah.

Kisahnya berangkat dari cerita dua orang anak Sultan, Jamar (diperankan Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) yang ingin membalas dendam atas pembunuhan ayah mereka setelah bertahun-tahun diasingkan ke Amerika Serikat.



Bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) mereka pulang kampung untuk merebut keadilan di Tanah Jawa, tempat mereka dilahirkan. Pembalasan dendam ditujukan pada Van Trach (Reinout Bussemaker), Kepala VOC yang bertindak kejam dan semena-mena di daerah tersebut.

Misi mereka pun bersamaan dengan Kiona (Pevita Pearce), putri kepada desa.

Mike Wiluan membangun alur cerita yang tak begitu rumit dan terbilang mudah ditebak. Yang lemah tersakiti, yang kuat bertindak semena-mena. Dan pada akhirnya kebaikan mengalahkan kejahatan. Sayangnya, kesederhanaan itu tak sebanding dengan upaya untuk filmnya.

Cuplikan adegan 'Buffalo Boys.'Cuplikan adegan 'Buffalo Boys.' (Dok. Infinite Studios)
Deretan pemainnya punya rekam jejak yang top. Ada beberapa yang bahkan sudah jadi bintang internasional. Penggarapannya pun bak film laga Hollywood. Namun eksplorasi yang kurang membuat talenta pemain tak menonjol dan penggarapaj teknis film terasa sia-sia.

Tokoh Kiona yang diperankan Pevita, semula digambarkan sebagai wanita kuat yang berani melawan aturan. Namun perlahan gambaran itu pupus. Kehadiran karakter-karakter seperti Fakar (Alex Abbad) dan Adrie (Hannah Al Rashid) pun nanggung karena porsinya sedikit.

Namun, film itu terbilang berhasil menciptakan latar situasi kehidupan era penjajahan.


Penggambaran penjajah yang tak kenal ampun untuk menghabisi atau menyiksa pribumi yang tak mau tunduk aturan, suasana kehidupan di kota maupun desa, kostum yang digunakan, terasa pas. Sinematik yang disuguhkan pun memanjakan mata.

Koreografi pada adegan-adegan laga juga terlihat apik dan dipersiapkan dengan baik. Duo kakak-adik yang jadi bintang utama film mampu memerankan karakter bak koboi-koboi yang menawan. Ikatan antara keduanya pun dibangun cukup kuat.

Sayangnya, ada yang masih terasa kurang pada penggunaan CGI di beberapa adegan.

Karakter yang dimainkan Alex Abbad kurang dieksplorasi dalam 'Buffalo Boys.'Karakter yang dimainkan Alex Abbad kurang dieksplorasi dalam 'Buffalo Boys.' (Screenshot via Instagram/@alexabbad)
Salah satunya saat tokoh Jamar dan Suwo hendak pergi ke kota dengan menunggangi kerbau. Kobaran api yang melahap rumah di pedesaan pun terlihat buatan.

Selain penggunaan CGI yang masih terlihat kasar, kekurangan dari Buffalo Boys juga ada pada penggunaan bahasa dan dialog yang dituturkan. Alih-alih menggunakan bahasa Belanda atau Jawa di masa itu, para pemain justru berdialog dengan bahasa Indonesia dan Inggris.

Beberapa pribumi bahkan turut fasih berbahasa Inggris.

[Gambas:Youtube]

Belum lagi, dialog yang diucapkan pun terdengar seperti film drama ketimbang film laga.

Secara keseluruhan, gaya baru perfilman Indonesia lewat Buffalo Boys setidaknya masih dapat dinikmati, khususnya dengan adegan-adegan laga yang memukau.

Buffalo Boys sudah bisa disakdikan di bioskop hari ini, Kamis (19/7). (rsa)