Ulasan Film: 'Kafir'

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Kamis, 09/08/2018 09:38 WIB
Ulasan Film: 'Kafir' 'Kafir' menyuguhkan misteri demi misteri yang membuat penonton penasaran. (Dok. StarvisionPlus via Youtube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak awal penonton Kafir sudah disuguhi kematian yang disampaikan tanpa basa-basi. Herman (diperankan Teddy Syach) sudah langsung membawa teror bagi penonton lewat kematiannya yang gaib dan misterius. Ia meninggal setelah muntah darah karena ada beling di tenggorokannya.

Efek kaget dari Kafir tak berhenti di beberapa menit pertama. Sri (Putri Ayudya) mendatangi dukun (diperankan Sujiwo Tejo) untuk mencari tahu soal kematian suaminya. Namun itu malah membawa kengerian yang lain. Teror demi teror pun tak berhenti usai itu.

Dari satu adegan ke adegan lain, rasa penasaran penonton seolah terus dipupuk. Mulai kematian Herman, dukun misterius sampai kejadian-kejadian lain, penonton diajak terus berpikir. Namun justru setiap teror itulah yang menarik membuat penonton tetap tinggal.



Perlahan, seiring rasa penasaran penonton memuncak, rahasia keluarga Herman pun terungkap.

Penulis Upi Avianto dan Rafki Hidayat menulis cerita Kafir dengan kuat dan rapi. Ditambah lagi, sutradara Azhar Kinoi Lubis Hal mampu menerjemahkannya lewat gambar dengan apik.

Tidak seperti film horor kebanyakan, Kafir tak banyak menampilkan sosok hantu dengan mengejutkan dan suara-suara mengagetkan. Seperti Hereditary, horor yang mengguncang festival film di Sundance beberapa waktu lalu, film itu menyuguhkan misteri yang kuat.


Meski bintang filmnya 'lawas' dan tak lagi populer, Kafir tetap mampu menggebrak dengan adegan-adegan misterinya. Akting masing-masing bintang pun makin menguatkan film itu.

Di luar cerita, teknis film patut mendapat tepuk tangan. Pengambilan gambar dan karakter warnanya sangat cocok dengan cerita horor. Meski begitu, ia tak berlebihan. Tidak terlalu banyak akting dalam ruang dengan lampu temaram. Adegan dengan matahari pun masih seimbang.

Pun begitu dengan efek visual. Hampir semua digarap dengan mulus. Api kebakaran dan muntah darah misalnya, terlihat jelas dan asli. Kalau pun terasa glitch, masih nyaman disaksikan.


Kafir yang menambah panjang daftar film horor Indonesia belakangan pun layak direkomendasikan. Namun, jangan salah membandingkannya dengan film berjudul sama yang rilis 2002 lalu. Meski sama-sama digarap rumah produksi StarVision Plus dan menampilkan Sujiwo Tejo sebagai dukun, dua film itu berbeda dan tidak saling berhubungan.

Netizen justru banyak menyandingkan film itu dengan produksi ulang Pengabdi Setan oleh Joko Anwar yang rilis beberapa waktu lalu dan berhasil menyentak Indonesia, bahkan dunia film internasional. Soal cerita, keduanya memang berbeda. Namun layak lah menyampaikan terima kasih pada Pengabdi Setan yang telah menaikkan standar film horor nasional.

Di Kafir tak ada lagi hantu yang kelihatan bikinan dan perempuan-perempuan seksi yang lari ketakutan sambil memamerkan tubuh. Horor Indonesia sudah lebih tentang teror dan penasaran yang dipupuk sedikit demi sedikit. Membuat penonton takut tanpa harus menakuti.


Film berlatar 1990-an ini dapat disaksikan di jaringan bioskop 21, Cinemaxx dan CGV blitz.

[Gambas:Youtube] (rsa)