Tradisi kirab ini digelar dengan cara berjalan beriringan mengelilingi Puro Mangkunegaran, Solo. Dalam acara kirab ini, turut dikirab empat pusaka keraton Solo. Keempat pusaka ini yakni tiga pusaka jenis tombak dan satu pusaka berada di dalam jodang atau berbentuk kotak penyerupai rumah kecil.
Peserta kirab mengenakan pakaian jawa (beskap) untuk yang laki-laki, dan kebaya bagi yang perempuan. Pakaian yang dikenakan mayoritas berwarna hitam. Acara kirab dimulai dari kawasan Pendapi Ageng Puro Mangkunegaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut panitia Kirab Malam Sura Mangkunegaran, Joko Pramudyo, Puro Mangkunegaran melaksanakan kirab malam 1 Suro sesuai kalender resmi pemerintah, pada Senin malam ini.
Menurut Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dirinya merasakan ikut upacara tradisi dengan mengelilinging Puro Mangkunegara sambil berdoa berzikir bersama peserta lainnya.
"Saya bukan pertama kali ikut tradisi ini, tetapi di Keraton memang baru pertama. Namun, saya sebagai rakyat biasa sudah sering keluar setiap malam 1 Sura," ujarnya.
Kendati demikian, ia mengingatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdiri dari beberapa kerajaan-kerajaan yang ada. Hal itu, yang mengangkat harkat martabat Bangsa Indonesia dengan tradisi-tradisi leluhur.
"Mangkunegaran ini, perlu dicatat pada 1757, Raden Mas Said sudah melakukan perlawanan terhadap musuh karena tidak keadilan dan penghinaan," tambahnya.
KGPAA Mangkunagoro IX juga membagikan ribuan bungkus nasi untuk masyarakat sebagai gambaran makan bersama antara pemimpin dengan rakyatnya. Selain itu, acara dilanjutkan KGPAA Mangkunagoro IX bersama keluarga memberikan uang dengan disebar di depan pendopo Puro Mangkunegara yang diusambut ribuan orang masyarakat yang menunggu sejak sore hari.
Yanto (48) salah satu warga asal Boyolali sengaja datang ke Mangkunegaran untuk mendapatkan berkah berupa uang recehan baik logam maupun kertas. "Saya ikuti upacara tradisi ke Puro Mangkunegara untuk mencari berkah," katanya. (eks)