Ulasan Film: 'Aruna & Lidahnya'

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 28/09/2018 12:32 WIB
Ulasan Film: 'Aruna & Lidahnya' Film 'Aruna & Lidahnya' menawarkan kisah sederhana dengan kualitas akting apik dan gambar yang mampu membuat perut kelaparan. (Dok. Palari Films/CJ Entertainment via Youtube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pastikan perut kenyang sebelum menonton film Aruna & Lidahnya. Saya jamin, penonton akan merasa lapar nonton film yang disutradarai Edwin ini bila belum makan. Terlebih ada 21 makanan khas Nusantara yang tersaji dalam film ini.

Film Aruna & Lidahnya merupakan adaptasi lepas dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak. Cukup banyak cerita dalam novel yang tidak masuk film, karena memang film ini adaptasi lepas.

Film yang menceritakan perjalanan Aruna (Dian Sastrowardoyo) menginvestigasi kasus flu burung di empat kota sembari beburu kuliner Nusantara ini terasa seperti makanan.


Rasa manis, asam dan asin padu jadi satu seperti makanan dalam satu piring. Berbagai macam rasa bergumul dalam hati.


Mulai dari manis, rasa manis muncul dalam film ini saat Aruna berburu kuliner dengan dua sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra) dan Nad (Hannah Al Rashid), yang ikut investigasi ke empat kota.

Persahabatan mereka terasa nyata, itu terlihat dari mereka yang saling paham kepribadian rekannya.

Apa lagi film ini menggunakan gaya karakter yang bisa berbicara pada penonton melalui sejumlah dialog Aruna. Sering kali ia menatap kamera untuk menjelaskan siapa, apa dan bagaimana tentang suatu karakter. Ini menjadi salah satu unsur yang menarik.

Tiga sekawann ini bisa tertawa bersama dengan mulut yang penuh makanan. Bisa juga saling judes karena satu masalah, namun peselisihan itu cepat selesai karena mereka saling paham. Itulah persahabatan yang tak selalu membagiakan.

Nicholas Saputra menjadi Edwin dalam 'Aruna & Lidahnya'.Nicholas Saputra menjadi Bono dalam 'Aruna & Lidahnya'. (Dok. Palari Films/CJ Entertainment via Youtube)

Persahabatan yang terasa nyata tak lepas dari peran Titien Wattimena sebagai penulis naskah. Dialog di antara Aruna, Bono dan Nad sangat mirip dengan dialog kehidupan nyata. Ketika sekelompok berkumpul mereka membicarakan apa pun, mulai dari cinta, agama sampai politik.

Hal itu didukung dengan akting Dian yang sangat baik. Ia benar-benar berperan sebagai Aruna dan berhasil keluar dari karakter Cinta dalam dua film Ada Apa Dengan Cinta. Pun begitu dengan Nicholas yang keluar dari karakter Rangga.

Rasa asam dan asin mulai terasa ketika Aruna bertemu Farish (Oka Antara), mantan rekan sekantor yang sempat ia taksir. Mau tak mau ia terus bersama karena Farish ditugaskan investigasi bersama Aruna. Sehingga rasa suka kepada Farish bersemi kembali.

Terlihat jelas kehadiran Farish menjadi bumbu cinta pada film ini. Tenang saja, film ini tidak berubah menjadi film dengan cerita cinta kacangan seperti di layar kaca. Kisah cinta hanya disisipkan sebagai pelengkap.


Di sisi lain, Edwin mengeksekusi dengan baik setiap adegan masak atau menyantap makanan. Pengambilan gambar setiap makanan diperlihatkan detail, mulai dari meracik bumbu sampai makanan tersebut matang. Inilah alasan mengapa perut terasa lapar bila menonton Aruna & Lidahnya.

Meski demikian, ada dua kekurangan teknis dari film kedua Palari Films ini. Pertama, ada sejumlah adegan yang 'tak nyambung' antar scene. Kedua, adanya perbedaan ketebalan suara yang mengindikasikan banyaknya adegan percakapan seolah disulihsuarakan.

Namun kekurangan itu terlupakan setelah film yang tayang sejak Kamis (27/9) itu selesai. Cerita sederhana yang dikemas dengan menarik berserta akting aktor yang berkualitas berhasil membuat film ini bagus dan layak tonton.

[Gambas:Youtube] (end)


BACA JUGA