Nursilah
Dosen pada Program Studi Pendidikan Tari fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta dengan spesialisasi pada bidang Antropologi Tari. Mata kuliah yang diampu selain Antropologi Tari adalah rangkaian mata kuliah penelitian, Kreativitas Seni, Industri Kreatif, dan praktek Tari Jawa Timuran. Aktif melakukan penelitian seni tradisi terutama Reyog Ponorogo.

Agar Seni Tradisi Tak Mati Tragis di Tanah Sendiri

Nursilah, CNN Indonesia | Senin, 29/10/2018 09:28 WIB
Agar Seni Tradisi Tak Mati Tragis di Tanah Sendiri Ilustrasi seni tradisi Indonesia. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sumpah pemuda adalah momentum penting bagi kedaulatan negara dan bangsa Indonesia. Tahun momen Sumpah Pemuda sudah menapaki usia 90 tahun sejak diikrarkan pada 1928 silam. Sebuah bilangan yang cukup banyak dalam menapaki sejarah, yang semakin lama justru semakin dirasakan pentingnya bagi keutuhan negara Republik Indonesia.

Rasanya sudah saatnya merefleksi kembali peristiwa itu sebagai landasan bersikap bagi setiap warga negara.

Dalam bidang seni, momentum Sumpah Pemuda ini menjadi sangat aktual mengingat saat ini keberadaan seni tradisi tengah menjadi isu yang menghangat di tengah suhu politik menjelang Pemilu 2019.


Mungkin tidak semua dari kita menyadari bahwa kesuksesan kongres pemuda yang akhirnya merumuskan ikrar Sumpah Pemuda itu melibatkan campur tangan seniman, yaitu sastrawan dan musisi. Sebut saja tokoh itu Mohammad Yamin dan WR Supratman, para seniman kreatif yang pada zamannya berperan besar dalam Kongres Pemuda II.

Mohammad Yamin adalah sastrawan dan budayawan pencetus resolusi Sumpah Pemuda. Ketokohannya di bidang sastra tak diragukan lagi dan dia dianggap sebagai tokoh perintis puisi modern Indonesia.

Sementara itu W.R. Supratman adalah wartawan dan musisi yang menciptakan lagu Indonesia Raya dan Ibu Kita Kartini. Saat Konggres Pemuda II, dia memperdengarkan Indonesia Raya dengan gesekan biolanya, sebuah langkah yang cerdas dalam menyiasati kehadiran polisi Hindia Belanda yang menjaga ketat berjalannya kongres.

Menilik kegigihan para pemuda pada masa itu, dapat disimpulkan bahwa saat itu Indonesia sudah memiliki sastrawan dan musisi kreatif yang berperan besar dalam berlangsungnya Kongres Pemuda II yang akhirnya menghasilkan sumpah pemuda.

Permasalahannya adalah, bagaimana para seniman di era milenial ini memaknai sumpah pemuda di tengah berbagai arus informasi yang menempatkan aktivitas seni sebagai praktek yang acapkali dianggap menyimpang oleh kelompok-kelompok tertentu?

Framing Terhadap Aktivitas Seni Tradisi

Hampir seluruh seni tradisi di Indonesia adalah perpanjangan budaya primitif yang bermula dari ritual adat dan kepercayaan. Kemunculannya merupakan penyertaan ritual sebagai media agar memperoleh keberhasilan dalam relasi antara manusia dan kehidupan supranatural yang melingkupi.

Dalam perjalanannya, seni tradisi ini digunakan untuk berbagai kepentingan baik dalam acara agama, adat, kenegaraan, bahkan secara politik.

Akhir-akhir ini banyak isu yang berkembang di masyarakat yang menempatkan aktivitas seni tradisi sebagai perilaku menyimpang dilihat dari kacamata kelompok masyarakat tertentu.

Sebut saja, sejak terjadinya bencana gempa dan tsunami di Palu, aktivitas seni tradisi lantas dikait-kaitkan sebagai penyebab terjadinya bencana tersebut.

Di berbagai daerah, misalnya saja perhelatan Gambyong massal di Surakarta, Gandrung Sewu di Banyuwangi, dan ritual Larungan Sesaji di Jawa Tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Apabila seniman dan pemerhati seni tidak segera tanggap, isu ini akan bergerak ke berbagai seni tradisi di Indonesia dan bukan tidak mungkin menjadi ancaman kedaulatan negara dan bangsa yang sudah susah payah dibangun sejak diikrarkannya trilogi Sumpah Pemuda.

Lantas, bagaimana sikap dan langkah tepat yang seyogyanya dilakukan oleh seniman di era milenial?

Strategi Kebudayaan Bagi Seniman di Era Milenial

Jauh-jauh hari C.A. Van Peursen melalui Strategi Kebudayaan (1985) sudah menjelaskan soal tiga tahap berpikir manusia yaitu tahap mistis, ontologis, dan fungsional.

Pada tahap mistis, manusia tak bisa dipisahkan dari alam dan lingkungannya, dan bersifat partisipatoris. Segala gejala alam dianggap sebagai kausalitas dari sikap dan perilaku sehingga harus selaras dengan alam sekitar. Pada tahap ontologis, manusia berusaha menjaga jarak dengan alam dan menjelaskan segala gejala alam melalui penjelasan ilmu pengetahuan. Pada tahap fungsional, manusia tak lagi memikirkan aspek partisipatoris ataupun penjelasan ilmu pengetahuan semata, tetapi menekankan pada aspek manfaatan dalam kehidupan secara fungsional.

Saat ini, ketika kita berada tak hanya sekedar di tahap fungsional tetapi pada revolusi industri 4.0, tentu tak bisa ditawar lagi pentingnya menerapkan strategi kebudayaan dalam berkesenian dengan melestarikan seni tradisi melalui pengembangan dan pemanfaatan sesuai dengan konteksnya.

Seni tradisi saya kira memiliki kelenturan luar biasa dalam menembus zaman. Pada era primitif, seni berfungsi utama sebagai media ritual adat dan kepercayaan masyarakat. Namun, panjangnya waktu yang dilalui hingga saat ini, seni telah bermetamorfosis menjadi media yang sangat fleksibel dalam mendampingi berbagai hajat hidup masyarakat.

Seni tradisi bisa menjadi sarana ritual, media penanaman nilai-nilai karakter, hingga pengembangan kreativitas.

Banyak sekali unsur-unsur yang bisa dipetik dari beraktivitas seni tradisi. Oleh karena itu, saatnya seniman dan penggiat seni untuk lebih bijak menyikapi berbagai isu negatif terhadap eksistensi seni tradisi.

Pada era revolusi industri 4.0 ini, ketika digitalisasi mendominasi kehidupan, generasi muda memiliki akselerasi luar biasa dalam menangkap berbagai sinyal terutama artefak kebudayaan dengan daya tariknya masing-masing. Dunia yang telah tak berbatas (borderless) ini membuat generasi muda bebas mengapresiasi berbagai unsur budaya dari berbagai belahan bumi manapun.

Diperlukan sikap cerdas para seniman agar generasi muda bisa menemukenali nilai-nilai penting dari budaya setempat. Tentu akan lebih bijak lagi apabila memanfaatkan seni tradisi sebagai pijakan dalam pengembangan kreativitas dengan mengedepankan nilai-nilai karakter positif yang terkandung dalam seni tradisi, sehingga berfungsi secara optimal dalam memenuhi hajat hidup sebanyak mungkin umat manusia.

Sejatinya demikianlah strategi kebudayaan semestinya dipraktekkan.

(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


ARTIKEL TERKAIT