Analisis

Pesta Grammy (Hitam) Awards 2019

Tim, CNN Indonesia | Senin, 11/02/2019 17:01 WIB
Pesta Grammy (Hitam) Awards 2019 Kaum Afrika-Amerika sangat terepresentasikan dalam Grammy Awards 2019. (REUTERS/Mike Blake)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada lagi yang bisa memprotes bahwa Grammy Awards terlalu putih. Ajang penghargaan bergengsi di bidang musik kali ini bahkan bisa dibilang paling 'hitam.' Mulai pemandu acara, musisi yang tampil, nomine, sampai pemenang, kebanyakan merupakan musisi keturunan Afrika-Amerika.

Itu sebuah kemajuan, mengingat selama ini musisi Afrika-Amerika kerap dipandang sebelah mata.

Musisi Alicia Keys ditunjuk sebagai pemandu acara. Lahir di New York, Keys memiliki ayah berdarah Afrika-Amerika. Kehadirannya di Grammy Awards menjadi representasi kulit hitam.



Apalagi ia berhasil menggandeng mantan Ibu Negara AS, Michelle Obama yang juga merepresentasikan warga kulit hitam.

Kulit hitam juga terepresentasikan lewat kemenangan rapper Donald Glover yang dikenal dengan nama panggung Childish Gambino. Ia meraih penghargaan Record Of The Year, Song of The Year, Best Rap/Sung Performance dan Best Music Video lewat lagu This Is America.

Empat penghargaan sekaligus, yang terbanyak di Grammy Awards ke-61 ini.

Sayang, Glover tidak hadir di Staples Center, Los Angeles, Amerika Serikat tempat Grammy Awards 2019 digelar. Ia bersama Drake dan Kendrick Lamar disebut menolak permintaan the Recording Academy untuk tampil, meski secara mengejutkan Drake berpidato di atas panggung atas kemenangannya sebagai Best Rap Song lewat God's Plan.

Absennya mereka adalah bentuk protes terhadap (anggapan) kegagalan The Academy untuk terhubung dengan dunia hip hop.

[Gambas:Video CNN]

Terlepas dari protes itu, Cardi B juga menjadi representasi Afrika-Amerika saat ia meraih penghargaan Best Rap Album lewat album Invasion Of Privacy dalam Grammy Awards tahun ini.

Sama halnya dengan Kendrick, Beyonce, Drake, H.E.R. dan beberapa musisi Afrika-Amerika lain yang meraih penghargaan. Grammy pun terasa lebih berwarna ketimbang sebelumnya.

Sebenarnya, representasi musisi Afrika-Amerika selalu ada di Grammy Awards meski sedikit. Grammy Awards 2016 mendapat apresiasi karena berani menominasikan rapper Kendrick Lamar dalam 11 kategori. Saat itu ia lantas pulang membawa lima penghargaan.


Namun justru kala itu Grammy Awards diterpa isu rasialisme. Billboard sempat menerbitkan tulisan bertajuk 'Confessions of a Grammy Voter: Industry Heavyweights Share Their Predictions -- and Gripes' yang menyoroti 'kepentingan-kepentingan' yang memihak warna kulit dalam industri musik, khususnya dalam penyelenggaraan Grammy Awards.

Dijelaskan pula bahwa mayoritas anggota tim penilai di Grammy Awards ialah 'pria berumur yang berkulit putih'.

Isu rasial dalam Grammy Awards juga tercium ketika Adele dan Sam Smith mendapat sorotan yang lebih besar dibanding kemenangan musisi Afrika-Amerika. Itu disadari oleh Jazmine Sullivan, salah satu musisi yang mendapat nominasi Grammy Awards, dalam wawancara dengan The Associated Press.

"Saya senang jika ada orang yang mengapresiasi saya, karena masih ada sedikit ketidakadilan mengenai apresiasi yang didapat oleh musisi berkulit hitam. Tapi saya mencoba untuk tidak terlalu fokus terhadap hal yang negatif," kata Sullivan.


Mengacu pada kejadian masa lalu di atas, The Recording Academy selaku penyelenggara sepertinya sadar akan isu rasialisme. Alhasil tahun ini mereka melakukan perubahan, meski pemenang puncak mereka, yang diumumkan di paling akhir, masih keturunan Kaukasia.

Ia adalah Kacey Musgraves yang memenangi Album of The Year.

Namun jika dikomparasikan, masih banyak penghargaan untuk kulit berwarna di Grammy 2019.

Mudah-mudahan, nominasi dan penghargaan yang diberikan kepada musisi Afrika-Amerika dari Grammy Awards benar-benar karena karya musisi tersebut. Bukan sekadar formalitas agar diapresiasi atau cara untuk 'mengkomoditaskan' perbedaan warna kulit yang ada. (adp/rsa)