Fenomena Podcast yang 'Merebut Hati' Arab Saudi

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 14/05/2019 06:38 WIB
Fenomena Podcast yang 'Merebut Hati' Arab Saudi Podcast mendapat sambutan hangat di Arab Saudi. (Ilustrasi/Istockphoto/Nicola Katie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kalau podcast tidak begitu berhasil di Indonesia, lain cerita dengan di Arab Saudi. Anak-anak muda di Arab sekarang justru lebih suka mendengar podcast ketimbang radio.

Bagi Rami Baassiri, pendengar podcast, ia jadi lebih produktif karena bisa menyambi mendengar podcast dengan mengerjakan hal lain. Dalam perjalanan maupun saat bersih-bersih.

Ia pun bisa memilih yang mau didengar.


"Saya pikir podcast adalah radio on demand," katanya kepada AFP.


Ia menganggap radio adalah produk media massa yang menyampaikan sesuatu secara acak. Sementara podcast, kata pemuda 26 tahun itu, memberinya kontrol lebih untuk memilih siapa yang ingin didengar dan topik apa yang ingin didengar.

Salah satu 'selebriti' podcast yang terkenal adalah Rana Nawas. Ia sudah dua tahun memproduksi podcast berbahasa Inggris yang bertajuk 'When Women Win.'

Isinya tentang cerita sukses perempuan dari berbagai dunia.

Menurut data Apple, itu menjadi podcast paling didengar di seluruh Timur Tengah. Podcast itu bahkan akan diperdengarkan di setiap penerbangan Emirates Airline mulai bulan ini.

Di Timur Tengah sendiri, podcast itu bisa diunduh di 144 negara.


Nawas memproduksinya pertama di Dubai pada 2017, namun kini podcast-nya tersebar luas. Awalnya ia hanya berbicara di podcast untuk menyampaikan cerita yang bisa menjadi panutan bagi perempuan-perempuan. Ia banyak menyampaikan hal luar biasa yang dilakukan perempuan.

"Saya terkejut dengan bagaimana orang-orang merespons 'When Women Win.' Jelas ada kehausan akan konten ini, jelas ada kehausan akan panutan perempuan," tutur perempuan 40 tahun itu.

Mantan agen penjualan itu juga terkejut karena pasar terbesarnya adalah Arab Saudi.

"Semua orang mengatakan pada Anda bahwa orang-orang Arab hanya mengonsumsi konten video berbau Arab, jadi saya sangat senang mereka juga mengonsumsi konten audio berbahasa Inggris," tuturnya lebih lanjut. Nawas pun berharap ke depannya podcast-nya menguntungkan.


Selama ini ia mendanai sendiri podcast itu.

"Saya berharap dalam beberapa tahun, ketika saya mencapai dampak yang saya inginkan, bisa membawa investor atau pengiklan atau sponsor," katanya berharap.

Tak hanya Nawas, ada pula Omar Tom, pembuat podcast kelahiran Sudan. Ia mengawali usahanya pada 2016, juga berbahasa Inggris, Topiknya bisa apa pun yang tak disentuh media konvensional. The Dukkan Show, membahas kehidupan ekspatriat di negara semenanjung.

Dalam podcast itu ia berbincang dengan tamunya seakan mereka berada di dukkan-toko dalam bahasa Arab-tempat masyarakat setempat bersosialisasi dengan teman dan tetangga.

"Saya ingin memerangi stereotipe," ujar Tom, yang mengaku mendapat stereotipe karena kelahiran Sudan, yang tidak terlalu terwakili di media-media konvensional.


"Sebagai orang Arab kami tidak terlihat begitu baik di media internasional dan barat. Bagaimana menangani itu? Satu-satunya cara adalah berbicara dengan bahasa yang semua orang mengerti, yang dalam konteks ini adalah bahasa Inggris," tuturnya memaparkan.

Menurut Reem Hameed, seorang Kanada yang berpartisipasi dalam The Dukkan Show, podcast akan abadi di Arab Saudi. Sekarang saja ia sudah merambah Oman, Kuwait, Yordania, dan Libanon. Di Yordania bahkan ada platform Sowt yang membahas segala hal mulai politik sampai musik. Podcast yang satu itu, mengutip AFP, sudah ada sejak 2017.

Pendapat Hameed disetujui Hebah Fisher, penggagas jaringan Kerning Cultures di Dubai. Itu adalah podcast pertama yang disponsori di Timur Tengah. Baginya, podcast itu masa depan.

"Bibit yang kami tanam adalah sinyal kuat untuk industri podcast di Timur Tengah. Media ini digarap serius dan keuntungannya untuk pengguna serta pendengar sudah jelas. Podcast adalah masa depan media," ia memberi keterangan melalui surel kepada AFP.

[Gambas:Video CNN] (rsa)