Meski baru 'diakui' pada 2008 itu, kehidupan Rayssa dekat dengan musik sejak kecil. Ia tumbuh dengan alunan piano klasik sang nenek, yang membuatnya ikut tertarik memainkannya, meski tidak berakhir sebagai pianis.
"Gue enggak pernah seserius itu les piano. Enggak pernah menyelesaikan, jadi setengah-setengah gitu kalau les," kata Rayssa kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan dokumentasi ibundanya, Rayssa membuat lagu ketika sedang mengadakan pentas bersama sepupu di rumahnya. Lagu itu bercerita tentang berkebun, terinspirasi dari kegiatan berkebun bersama kakeknya setiap akhir pekan.
Masa putih birunya di SMP Al Azhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan itulah yang kemudian menjadi jalan Rayssa untuk menjadi musisi. Ia sempat membuat band dengan tujuan senang-senang belaka, menyanyikan ulang karya musisi lain.
Rayssa berperan sebagai vokalis dalam band itu.
Meski menjadi perempuan satu-satunya di dalam band, ia 'menaklukkan' panggung demi panggung. Bermusik pun kian menyenangkan. Sampai setelah lulus SMP, Rayssa tetap tampil bersama band-nya itu. Jalan mulus pun berpihak padanya.
Rayssa berkolaborasi dengan Artificial, yang lagunya diproduser oleh Arrio dari label rekaman Double Deer. Arrio yang tertarik dengan suara Rayssa langsung mengajaknya bekerja sama. Dari sana, semua semakin lancar. Rayssa mengaku terlibat di banyak proyek meski tak sejalan dengan kuliahnya.
"Saat itu gue sambil kuliah di Jurusan Gizi Universitas Indonesia," kata Rayssa menjelaskan.
Pada 2016 Rayssa semakin aktif menulis dan merekam lagu, diproduseri Arrio yang mengenalkannya dengan musik elektronik. Proses itu menjadi alasan mengapa lagu-lagu Rayssa bergenre pop elektronik, walau sebenarnya ia lebih suka mendengarkan genre pop seperti karya Frank Sinatra dan Nat King Cole.
Lihat juga:Buah Manis Jadi Tuli untuk Pamungkas |
"Awal dengerin musik elektronik tuh gue norak banget. Gue mikir lagu sekompleks itu bisa dibikin cuma pakai komputer doang. Terus dari situ udah mulai tertarik, dan di Indonesia masih jarang," kata Rayssa bercerita.
Rayssa lulus dari kuliahnya pada 2017. Ia kemudian bekerja di salah satu perusahaan yang memproduksi obat, namun hanya bertahan selama satu bulan karena merasa tidak nyaman. Sejak itu ia menjadi sepenuhnya musisi, sampai kini.
Musik elektronik pop Rayssa Dynta dan cerita hidupnya bisa disaksikan secara streaming dalam acara Music At Newsroom CNNIndonesia.com, Selasa (25/6) pukul 14.00 sampai 15.00 WIB. (adp/rsa)