Menikmati Putaran Film di Tengah Riuh Pasar Teluk Gong

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Minggu, 07/07/2019 16:01 WIB
Menikmati Putaran Film di Tengah Riuh Pasar Teluk Gong Suasana menonton film di bioskop rakyat Indiskop, Pasar Teluk Gong, Jakarta Utara. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lantunan musik dangdut menggema kala menginjakkan kaki di bioskop rakyat Indiskop. Suara pria dan wanita yang tampak sedang berkaraoke terdengar sumbang dari pengeras suara.

Keduanya adalah pegawai bioskop yang terletak di lantai dua Pasar Teluk Gong, Jakarta Utara. Mereka hanya mengisi waktu luang seraya menanti calon penonton di meja pembelian tiket. Maklum, bioskop masih sepi.

Hanya segelintir masyarakat sekitar yang terlihat mondar-mandir. Itu pun sekadar datang mengintip suasana, kemudian beranjak pergi. Sementara penonton bioskop yang datang didominasi oleh gerombolan bocah.

"Memang belum beroperasi secara resmi," ujar seorang penjaga. Bioskop rakyat Indiskop rencananya akan dibuka untuk publik secara resmi pada 18 Juli mendatang.

Tak lama setelahnya, empat bocah perempuan datang membeli tiket seraya menenteng kantung keresek jajanan. Usai bertanya-tanya pada petugas, keempatnya berdiskusi menentukan jadwal mana yang hendak dipilih.

Saat itu, Sabtu (6/7), ada dua film yang sedang diputar. Rectoverso karya Marcella Zalianty dan Batas garapan sutradara Rudi Soedjarwo. Jadwal yang disuguhkan terbagi empat sesi. Pertama pada pukul 13.00, 14.50, 16.30, dan 18.30 WIB.

Keempat bocah itu menonton film Batas untuk jadwal 13.00 WIB. Lewat 15 menit dari jadwal pemutaran. Petugas meminta mereka memilih kursi yang tertera dalam denah di sebuah kertas. Yang sudah dicoret, adalah kursi yang telah terisi.

Seorang anak menonton flm di bioskop rakyat Indiskop, Pasar Teluk Gong, Jakarta Utara. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)

Dari catatan itu, tampak 9 dari 112 kursi telah terisi, dengan dua di antaranya berlabelkan huruf 'D' sebagai penanda bahwa kursi dibeli oleh orang dewasa.

Dalam tiket di secarik kertas berukuran 4x4 sentimeter tertulis judul film, studio yang memutar, jadwal penayangan, nomor kursi, dan harga tiket. Sekilas, tiket tak nampak seperti bukti transaksi resmi pada umumnya. Cukup mudah dipalsukan.

Selama masa uji coba, harga tiket dibanderol seharga Rp5 ribu untuk anak-anak di bawah 12 tahun dan Rp15 ribu untuk dewasa. Manajer Operasional Indiskop, Almi Rusdi mengatakan, harga akan berubah seiring bioskop dibuka secara resmi.

Indiskop juga berupaya menampilkan film-film anyar. Film-film yang diputar di bioskop mainstream akan ditarik untuk kemudian ditayangkan di Indiskop. Namun, Almi menegaskan, hanya film Indonesia yang akan diputar di Indiskop.

"Perlu digarisbawahi, konsep bioskop ini memang inginnya agar semua kalangan bisa menonton. Film-filmnya hanya film Indonesia, itu juga akan dipilih kembali film yang mendidik," kata Almi, saat CNNIndonesia.com berkunjung pada Sabtu (6/7).

Selain bioskop, Indiskop juga memiliki ruang kreatif dan edukasi untuk masyarakat. Ruang itu, kata Almi, bisa digunakan sebagai wadah bedah film hingga workshop.

Fasilitas dan pelayanan yang disuguhkan Indiskop tak jauh berbeda dengan bioskop pada umumnya. Perbedaan hanya terlihat dari konsepnya yang lebih sederhana.

Sebelum memasuki studio, seorang petugas berjaga di depan pintu untuk mengecek tiket. Begitu berada dalam ruang studio, layar dihiasi wajah penggagas Indiskop, Marcella Zalianty, yang sedang beraksi dalam film yang bercerita tentang kehidupan di perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Utara.

Pembelian tiket menonton di bioskop rakyat Indiskop, Pasar Teluk Gong, Jakarta Utara. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kursi terasa nyaman, pendingin ruangan berfungsi, kamera CCTV terpampang di beberapa sudut, audio dan layar yang digunakan tak mengecewakan. Beda hanya terletak pada kenyamanan, juga aturan yang masih tampak bebas.

Tengok saja suasana menonton bioskop. Anak-anak berlarian, berteriak, bahkan bertengkar satu sama lain saat film diputar. Belum lagi keriuhan saat mereka berpindah-pindah kursi dan menendangkan kakinya ke bagian belakang kursi layaknya bocah kegirangan.

"Memang, salah satu kendala belum bisa diatur penontonnya. Kami sudah memperingati mereka. Ya, ini proses mengedukasi juga lah. Semoga nanti pelan-pelan paham," ujar Almi.

Reaksi Masyarakat
Keberadaan bioskop rakyat menuai banyak reaksi dari masyarakat sekitar. Ada di antara mereka yang menyambut gembira, ada pula yang mengeluhkannya.
Fitriyah, warga sekitar Pasar Teluk Gong, mengaku senang dengan kehadiran Indiskop. Betapa tidak, bioskop berdekatan dengan rumahnya.

"Ke sini awalnya karena penasaran, akhirnya tetangga bareng-bareng lihat. Lumayan terjangkau harganya dan dekat banget, jalan kaki sampai," ungkap Fitriyah yang datang bersama dua orang kawannya seraya membawa buah hati masing-masing.

Meski senang dengan harga murah yang ditawarkan, Fitriyah tetap berharap pihak Indiskop menghadirkan pilihan film-film anyar. "Biar enggak bosan," katanya singkat.
Sementara Fitriyah gembira, warga lain, Reno, justru mengeluhkan keberadaan Indiskop. Baginya, harga tiket yang dijual masih terbilang mahal, apalagi yang disajikan hanya film-film lawas.

Suasana menonton film di bioskop rakyat Indiskop, Pasar Teluk Gong, Jakarta Utara. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)

"Walaupun bioskop rakyat, tapi ini [Indiskop] mahal. Apalagi ini masih cukup dekat dengan banyak mal yang punya bioskop juga. Filmnya baru, ada film barat juga," kata Reno. Dia tak yakin bioskop rakyat anyar ini bisa berjalan.

Padahal, sebelumnya Reno berharap Indiskop dapat menambah transaksi jual beli dagangannya di pasar. "Tapi ini sudah ada sebulan, masih sepi," keluhnya.

Sebagai warga asli Teluk Gong, Reno kemudian mengenang masa silam, saat Bioskop Angkasa-yang juga berlokasi di dalam pasar-masih berjaya. Angkasa sempat menjadi primadona pada era 1980-an. Sayang, Angkasa harus mati dan pasrah pada kemunculan bioskop-bioskop modern pada awal 2000-an.

Reno berharap, Indiskop kelak bisa menyuguhkan fasilitas dan hiburan yang tak jauh berbeda dengan bioskop lain. Tapi, tetap dengan harga terjangkau.

"Harapannya ada film baru, film barat, dan bukan hanya film untuk anak-anak," kata Reno berharap.

[Gambas:Video CNN]


(asr)