Di bawah arahan Richard Oh, film tersebut menampilkan aksi Adipati Dolken sebagai tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blora yang melawan Nippon atau Jepang, Hardo.
Yang berbeda, Richard menambah kisah ini dengan memberi gambaran enam bulan lebih awal dari cerita aslinya, saat-saat karakter Hardo melakukan perlawanan terhadap Nippon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehadiran Hardo di kampung halamannya tercium oleh Nippon dan dia kembali diburu. Dalam sebuah perburuan selama sehari dan semalam menjelang proklamasi kemerdekaan, sebuah drama perjuangan terungkap.
Hardo bukan hanya menghadapi beban untuk tetap bertahan hidup, melainkan harus menerima fakta pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang dekat dengannya.
Secara garis besar, kisah ini memang sesederhana judulnya yakni tentang perburuan terhadap Hardo dan dampak yang muncul bagi orang di sekitarnya.
Di balik itu, kisah ini memiliki nilai untuk menunjukkan sisi lain dari peristiwa jelang kemerdekaan yang tidak hanya berporos di lingkungan elite seperti Soekarno dan Mohammad Hatta.
'Perburuan' memiliki nilai untuk menunjukkan sisi lain dari peristiwa jelang kemerdekaan yang tidak hanya berporos di lingkungan elite seperti Soekarno dan Mohammad Hatta. (Dok. Falcon Pictures) |
Akting Adipati sebagai karakter utama cukup meyakinkan. Raut, gestur, serta matanya ikut berbicara, menyuarakan batinnya yang bergejolak.
Dialog mendalam seperti percakapan Hardo dengan ayahnya atau ketika Hardo bertemu calon mertua yang mengkhianatinya sebenarnya jadi nilai tambahan film ini.
Meski diadaptasi tidak secara penuh seperti bukunya, tapi adegan itu cukup berhasil digambarkan dengan suasana yang sama.
Akan tetapi hal yang mengganggu kenikmatan cerita Perburuan datang dari kostum dan dandanan gembel Hardo yang mentah juga tak terlihat dikonsep dengan matang.
Padahal, tanpa embel-embel dandanan gembel, Adipati Dolken tetap bisa tampil maksimal menjadi sosok Hardo yang kere seperti yang digambarkan oleh Pramoedya.
Catatan merah dari film ini adalah masalah ritme cerita. Drama pergulatan yang dibangun sejak awal tak sukses dipertahankan secara kuat oleh Richard Oh cs.
Untuk sinematografi, Richard patut diapresiasi dalam menyuguhkan gambar-gambar indah dan keaslian lokasi serta suasana yang digambarkan Pram dalam bukunya.
Secara keseluruhan, Perburuan menambah suguhan film sejarah berkaitan dengan peristiwa kemerdekaan Indonesia, dengan sisi yang berbeda.
[Gambas:Youtube] (end)
'Perburuan' memiliki nilai untuk menunjukkan sisi lain dari peristiwa jelang kemerdekaan yang tidak hanya berporos di lingkungan elite seperti Soekarno dan Mohammad Hatta. (Dok. Falcon Pictures)