Review Film: 'Weathering with You'

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Rabu, 28/08/2019 18:05 WIB
Review Film: 'Weathering with You' Setelah sukses dengan 'Your Name', Makoto Shinkai kembali dengan kisah cinta magis lewat 'Weathering with You' yang mampu jadi perwakilan Jepang di Oscar 2020. (dok CoMix Wave Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Segenggam tisu yang sudah saya siapkan sebagai antisipasi menghapus air mata akibat menyaksikan karya terbaru Makoto Shinkai, 'Weathering with You', jadi sia-sia. Tak terpakai. Untuk pertama kali, saya tak merasa tersentuh dengan karya Shinkai yang penuh fantasi ini.

'Weathering with You' menceritakan kisah Hodaka yang kabur dari rumah ke Tokyo karena permasalahan keluarga. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Suga yang akhirnya memberikan Hodaka pekerjaan.

Berkat pekerjaan itu, Hodaka bertemu dengan Hina, seorang gadis yang mampu mengubah cuaca. Kesulitan hidup yang mereka rasakan membuat keduanya jadi dekat.


Tapi semakin dekat keduanya, makin banyak masalah yang muncul.

Hubungan Hodaka dengan Hina ini jadi salah satu ciri khas Makoto Shinkai, yaitu memastikan karakter utama laki-laki dan perempuan di filmnya punya hubungan khusus namun berbumbu magis.

Bukan cuma itu, kesukaan Makoto Shinkai mengenalkan legenda kuno dan kepercayaan masyarakat Jepang seperti di 'Your Name' juga muncul dalam film ini. Bedanya kali ini, Makoto lebih fokus mengajak penonton mengeksplorasi Tokyo.

Dengan keunikan Makoto itu, ia berhasil membuat saya terisak-isak sebelumnya lewat Your Name.

Padahal, film itu disebut Shinkai "belum rampung" dan memiliki masalah 'klise', perbedaan waktu dan ingatan yang dialami tokoh utama. Namun mampu membuat hati 'ambyar' dan ngenes.

Kemampuan menguras air mata dan emosi saat menyaksikan Your Name itu mau tak mau membuat banyak penonton, termasuk saya, berharap tisu yang dibawa saat menyaksikan Weathering with You bisa berguna, syukur-syukur kurang.

Namun asa tinggal kenangan.
Review Film: 'Weathering with You''Weathering with You' menceritakan kisah Hodaka yang kabur dari rumah ke Tokyo karena permasalahan keluarga. (dok CoMix Wave Films)
Keberhasilan itu sepertinya menjadi beban pikiran Makoto Shinkai dalam membuat 'Weathering with You'. Ia seakan ingin membuat film yang berstatus rampung kali ini.

'Weathering with You' memang memiliki cerita yang lebih rapi. Makoto juga mengembangkan permasalahan jadi lebih kompleks dengan menambahkan konflik hukum, ekonomi serta pekerjaan dalam film terbarunya.

Tak hanya itu, pemeran pendukung juga memiliki porsi yang lebih banyak dan berpengaruh dalam alur film.

Namun pengembangan tersebut tak membuat alur cerita menjadi rumit. Setelah menonton hingga akhir, jalur cerita 'Weathering with You' malah terasa lebih sederhana.

Tak lupa, sepanjang film Makoto menyelipkan humor yang segar. Selain itu, ada juga kejutan di film ini.

Akan tetapi nyatanya keunggulan dari segi bobot cerita kurang berimbang dengan faktor emosi. Lagu pengiring yang mestinya bisa berperan dalam membangun emosi justru terasa tak sanggup melaksanakan tugasnya.
Review Film: 'Weathering with You''Weathering with You' memang memanjakan mata dengan sinematografi memukau. (dok CoMix Wave Films)
Kompleksitas permasalahan yang dibuat Makoto jadi bumerang baginya. Banyak masalah itu yang malah menggantung, tak ada penjelasan yang membuat film ini tak ubahnya dengan pendahulunya yang ia sebut "tak rampung".

Padahal, penjelasan masalah itu bisa jadi potongan cerita yang membuat Weathering with You bernilai lebih. Tampaknya Makoto Shinkai terlalu asyik membuat Hina jadi pawang hujan alih-alih memperhatikan cerita.

Selain itu, yang membuat sebal, Makoto juga tampaknya sibuk memberikan apresiasi kepada para sponsor yang membanjirinya di film ini berkat kesuksesan 'Your Name'. Ew.

Namun di sisi lain, 'Weathering with You' memang memanjakan mata dengan sinematografi memukau. Andai penayangan bisa dihentikan sementara dan ditangkap layar, ada banyak potongan adegan yang layak jadi koleksi wallpaper ponsel atau desktop.

Pengambilan gambar yang ciamik juga berhasil membuat saya terhanyut di dalamnya seperti ikut lapar saat melihat adegan makan dan ikut terpukau dengan keindahan kembang api yang dinikmati Hodaka dan Hina.

Detail pengambilan gambar tetap menjadi salah satu keunggulan film Makoto Shinkai. Banyak hal-hal kecil yang ternyata memiliki arti mendalam.

Meski tak terlalu berhasil memainkan emosi, 'Weathering with You' tetap memiliki alur cerita yang kuat walau sederhana. Penonton pun masih bisa menikmati film ini.

Hal tersebut ditambah dengan sinematografi yang baik tampaknya jadi alasan Jepang mengajukan film ini untuk Oscar 2020. 'Weathering with You' menjadi anime pertama yang kembali diajukan ke Oscar setelah 'Princess Mononoke' karya Hayao Miyazaki pada 1998.

[Gambas:Youtube] (end)