Platform ini tergolong dikenal di antara penggemar drama Korea di Indonesia, macam Netflix bagi penyuka konten hiburan ala Hollywood. Bedanya, Viu lebih banyak menyiarkan drama dibanding memproduksi konten orisinalnya sendiri.
"Konten-konten di Viu merupakan konten Asia. Korea salah satu yang paling baik dan kami sangat senang dengan hal itu," kata Arun Prakash, Chief Operating Officer Vuclip saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu (28/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini drama-drama Korea pun menjadi senjata Viu.
Plus, tayangan itu termasuk subtitle atau takarir berbahasa Indonesia sehingga pengguna tak perlu pusing mencerna obrolan dalam drama yang berbahasa Korea atau bertulis Hangul.
Prakash menyebut konten-konten lokal menjadi pembeda platform itu dibanding media streaming lainnya. Maka setia terhadap drama Korea pun dipilih setelah mengetahui dan mengerti permintaan pengguna platform tersebut khususnya di Indonesia.
"Kami mencari tahu dan mengerti terlebih dahulu keinginan konsumen baru membuat atau membeli lisensi tontonan yang diinginkan ke platform kami. Hal itu yang akan kami teruskan," kata Prakash.
Arun Prakash, Chief Operating Officer Vuclip. (dok. VIU) |
Viu sendiri tercatat kini ada di 17 negara yang sebagian besar ada di Asia, dengan lebih dari 36 juta pengguna aktif bulanan dalam semester pertama 2019.
Prakash mencontohkan kondisi Afrika Selatan yang bertolak belakang dengan Indonesia. Di Afrika, drama Korea sangat minim sebab pengguna di sana lebih menginginkan tontonan lokal atau orisinal Afrika.
Bila ingin mempertahankan dan meningkatkan pelanggan, Prakash mengakui pihaknya mesti mengenal sifat mereka. Bagi Viu, jumlah pengguna aktif tiap bulan lebih penting dibanding total unduhan aplikasi tersebut.
Namun bukan hanya drama Korea yang Prakash dan tim sediakan di lapak mereka, sejumlah konten drama dan film asal Asia lainnya seperti Thailand dan China juga ada.
Beberapa dari konten tersebut bahkan disediakan secara gratis tanpa harus menjadi pelanggan terlebih dahulu.
Menurut Prakash, pengguna di Indonesia lebih senang yang gratis. Jelas berbeda dengan di Amerika Serikat yang masyarakat mau langsung bayar untuk berlangganan.
Ilustrasi kegandrungan menyaksikan drama Korea. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama) |
"Sehingga kami melihatnya secara keseluruhan ketimbang secara ekonomi," kata Prakash.
Sehingga, Prakash berharap sejumlah konten gratis tersebut bisa memancing pengguna baru yang aktif dan lebih penting lagi bisa menimbulkan keuntungan bagi bisnis konten streaming yang mereka jalankan.
"Kami bukan TVOD (transaction video on demand), kami subscription video on demand dan advertising video on demand. Kami tidak melihat keuntungan dari per judul. Kami melihat pengembalian investasinya secara keseluruhan platform." kata Prakash. (chri/end)
Arun Prakash, Chief Operating Officer Vuclip. (dok. VIU)
Ilustrasi kegandrungan menyaksikan drama Korea. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)