Review Film: 'Hayya: The Power of Love 2'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 27/09/2019 18:47 WIB
Review Film: 'Hayya: The Power of Love 2' Film 'Hayya: The Power of Love 2' menampilkan banyak kejanggalan yang sukar dinalar. (Foto: Warna Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bila membandingkan dengan 212: The Power of Love (2018), film Hayya: The Power of Love 2 jauh lebih memiliki konteks dan cerita. Dari awal sampai akhir, terlihat jelas cerita yang ingin dikisahkan.

Film berdurasi satu jam 41 menit ini bercerita tentang Rahmat (Fauzi Baadila) yang dihantui perasaan bersalah dan dosa masa lalu. Atas dasar itu, ia belajar memahami arti cinta dan hal yang perlu dilakukan dalam proses hijrahnya.

Rahmat yang juga bekerja sebagai jurnalis akhirnya memutuskan untuk menjadi relawan kemanusiaan di perbatasan kamp pengungsian Palestina. Kala itu ia bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Hayya.


Lambat laun, Rahmat menyayangi Hayya. Ia tak ingin meninggalkan gadis kecil itu, tapi tetap harus pulang karena dijadwalkan menikah satu bulan lagi, meski tanpa penjelasan lebih detail, misalnya tentang tanggal pernikahan.

Saat itulah cerita sebenarnya dimulai. Dan dari situ pula muncul adegan yang tidak masuk akal dan banyak logika yang tidak tepat, seperti logika waktu dan gambar.

Mari membahas satu persatu, mulai dari adegan yang tidak masuk akal. Salah satunya, ketika Hayya menyelinap ke dalam koper Rahmat agar bisa ikut ke Indonesia tanpa sepengetahuan Rahmat.

Rahmat heran ketika menemukan Hayya di rumahnya di Indonesia. Hayya yang tidak bisa bicara bahasa Indonesia menjelaskan dengan bahasa tubuh bahwa ia masuk ke dalam koper selama Rahmat menempuh perjalanan jalur air dari Palestina ke Indonesia.

Penjelasan itu dilengkapi dengan kilas balik Hayya. Diperlihatkan Hayya hanya keluar dari koper saat Rahmat tidak berada dalam ruangan kapal. Dilihat dari sudut pandang manapun, sangat sulit memikirkan kemungkinan seorang anak kecil bertahan hidup di atas kapal, tepatnya di dalam koper, seorang diri tanpa ketahuan.

Berikutnya, soal penyampaian informasi mengenai keadaan Hayya. Setelah meninggalkan Palestina, sahabat Rahmat yang bernama Adin (Adhin Abul Hakim) memberi tahu bahwa keluarga Hayya meninggal dunia. Hayya sebatang kara.

Penjelasan itu diberitahu Adin saat Rahmat belum mengetahui keberadaan Hayya yang menyelinap dalam koper. Mendengarnya, Rahmat bersedih mengingat masa bahagia bersama Hayya.
Review Film: 'Hayya: The Power of Love 2'Fauzi Baadillah berperan sebagai Rahmat dalam film 'Hayya: The Power of Love 2'. (Foto: Detikcom/Gusmun)
Yang tidak masuk akal dari bagian cerita ini adalah jalur informasi. Bila Adin bisa mendapat informasi tentang keluarga Hayya yang meninggal, seharusnya ia juga mendapat kabar bahwa Hayya hilang dari kamp.

Informasi mengenai Hayya hilang dari kamp yang digambarkan bertepatan dengan kepulangan relawan Indonesia baru diceritakan di tengah film untuk membangun konflik, upaya yang terlalu dipaksakan.

Masalah berikutnya adalah logika waktu yang tidak masuk akal. Ketika masih di Palestina Rahmat mendapat kabar dari ayahnya, Abah, bahwa ia bakal menikah satu bulan lagi. Saat percakapan tersebut terjadi, tidak ada keterangan waktu sehingga tidak diketahui kapan waktu satu bulan dari hari itu.

Namun ketika hilangnya Hayya di kamp Palestina menjadi berita besar, perwakilan dari relawan yang satu tim dengan Rahmat menjelaskan bahwa tim meninggalkan Palestina tanggal 20 Juli.

Anggaplah satu bulan sebelum pernikahan dimulai dari 20 Juli, walau seharusnya sebelum tanggal itu. Ketika Rahmat bersama Abah bertemu dengan keluarga sang calon istri Yasna, Abah menjelaskan bahwa pernikahan jatuh pada tanggal 25 Agustus.

Sontak Rahmat merespons. "Mengapa lebih cepat dari tanggal yang sebelumnya direncanakan?" katanya dengan wajah kaget dan bingung.

Seharusnya penonton yang bingung, bukan Rahmat. Sebulan dari tanggal 20 Juli adalah tanggal 20 Agutus, dan tanggal 25 Agutus bukan lebih cepat dari jangka waktu sebulan, tapi lebih lama.

Apakah semesta Hayya: The Power of Love 2 memiliki hitungan bulan sendiri yang tidak sama dengan Bumi?

Selanjutnya adalah logika gambar yang tidak tepat. Usai pernikahan, Rahmat meninggalkan rumah dalam keadaan marah. Adegan itu disambung dengan pengambilan gambar medium shot yang memperlihatkan mobil yang dikendarai Rahmat di sebuah persimpangan.

Seketika dari kanan persimpangan muncul mobil lain yang kemungkinan akan menabrak Rahmat. Bila hal itu yang akan terjadi, mobil penabrak seharusnya mengenai sisi kiri mobil Rahmat. Benar saja, tabrakan terjadi.

Tapi ternyata yang tertabrak adalah sisi kanan mobil Rahmat. Hal itu diketahui karena pengambilan gambar dipindah ke dalam mobil. Bagaimana bisa mobil yang menabrak itu berpindah cepat?

Masih banyak kebingungan lain dalam Hayya: The Power of Love 2, misalnya seperti penggunaan bahasa. Selama di Indonesia, Hayya yang disebut hanya menguasai bahasa Arab, terus-menerus diajak bicara dalam bahasa Indonesia, juga oleh Rahmat, yang selama berada di Palestina berkomunikasi dalam bahasa Arab dengan Hayya.

Usai menonton Hayya: The Power of Love 2, tidak terasa ada perasaan tertentu kecuali bingung. (adp/rea)