Gong Yoo Menangis Usai Baca Naskah 'Kim Ji-young, Born 1982'

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 20:51 WIB
Gong Yoo Menangis Usai Baca Naskah 'Kim Ji-young, Born 1982' Gong Yoo akan kembali ke layar lebar lewat film 'Kim Ji-young, Born 1982' bersama aktris Jung Yu-mi. (AFP PHOTO / ALBERTO PIZZOLI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktor Gong Yoo akan kembali ke layar lebar dalam waktu dekat. Ia akan membintangi film 'Kim Ji-young, Born 1982' bersama aktris Jung Yu-mi.

Film tersebut menjadi 'ajang reuni' bagi Gong Yoo dan Jung Yu-mi setelah keduanya bermain dalam 'Train to Busan' pada 2016.

Dalam konferensi pers beberapa waktu lalu, ia menceritakan tak ragu ketika ditawarkan casting untuk film tersebut.


"Setelah membaca naskah, saya memikirkan keluarga. Saya menangis sendiri di rumah setelah membaca itu," ucap Gong Yoo seperti dilansir Allkpop.

Gong Yoo mengatakan hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Setelah membaca naskah, ia mengaku teringat dengan tingkahnya sebagai anak laki-laki yang kerap dinilai nakal oleh orang tua.

"Saya juga langsung menghubungi ibu untuk berterima kasih kepadanya," tutur aktor berusia 40 tahun tersebut.

'Kim Ji-young, Born 1982' merupakan film keluarga bergenre melankolis yang fokus pada kehidupan pribadi serta keluarga dari seorang wanita bernama Kim Ji-young.

Film tersebut menceritakan kisah Kim Ji-young yang dipaksa keluar dari pekerjaannya karena hamil dan harus menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.

Banyak hal membuat Ji-young perlahan kehilangan jati diri lantaran 'terperangkap' dalam rutinitas sehari-hari. Lambat laun, Ji-young mulai jadi 'gila'.

Film tersebut diadaptasi dari novel karya Cho Nam-ju dengan judul serupa yang laris lebih dari satu juta eksemplar di Korea Selatan dan direkomendasikan sejumlah idol seperti Irene Red Velvet, Choi Soo-young Girls' Generation, RM BTS, serta Yoo Jae-suk.

[Gambas:Youtube]

Namun, 'Kim Ji-young, Born 1982' mendapat penolakan dari sejumlah pihak. Film dan buku tersebut dinilai menjadi simbol perjuangan perempuan di tengah patriarki Korea Selatan.

Beberapa pembaca laki-laki menilai buku tersebut menggambarkan laki-laki sebagai penindas. Padahal laki-laki, kata mereka, juga korban dari ketidaksetaraan gender seperti wajib militer yang hanya diharuskan bagi kaum Adam.

Hal tersebut berujung pada 'serangan' kepada artis-artis yang mendukung buku tersebut melalui komen-komen jahat di akun media sosial.

Jung Yu-mi sendiri juga mendapat serangan ketika diumumkan akan menjadi pemeran utama dalam film tersebut. Mengetahui Yu-mi diserang, para penggemarnya tak tinggal diam dan membela idola dengan menyerang balik para pembenci Jung Yu-mi. (chri/end)