Ghost Panic Team, Dapat Jutaan Rupiah dari Berburu 'Setan'

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 30/10/2019 17:04 WIB
Ghost Panic Team, Dapat Jutaan Rupiah dari Berburu 'Setan' Ilustrasi. Ghost Panic Team 'membawa' mistik ke level berbeda dengan aksi live di aplikasi tertentu. (Foto: CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar lima bulan lalu, di media sosial Twitter sebuah video yang memperdengarkan dialog "Ada ibu-ibu, guys' menjadi amat populer. Video dengan sudut pandang pemegang kamera yang memperlihatkan sosok berpakaian putih.

Orang di balik video itu adalah Fajar Sugiantara alias Papap dari komunitas Ghost Panic Team (GPT) yang secara resmi terbentuk pada September 2018. Sebenarnya, nama Ghost Panic Team sudah ada sejak Maret 2018.

"Saya sama enam teman sudah eksplorasi lokasi angker sejak 2005. Sempat belajar ilmu gaib, ada gurunya. Tapi saya buang [tahun] 2013 karena hidup terasa sial terus," kata Papap saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Selain berhenti menggunakan ilmu hitam, pada 2013 ia juga berhenti melakukan eksplorasi tempat angker. Sibuk dengan kehidupan setelah menikah, mencari setan tak lagi jadi pilihan Papap dan teman-temannya. Pria berusia 31 tahun ini kembali tertarik berburu setan ketika mengenal aplikasi Bigo Live pada 2018. Dari hanya menonton, lambat laun ia ingin membuat konten horor karena banyak digemari pengguna Bigo Live.

"Akhirnya kami coba. Saya ajak teman lama yang dulu eksplorasi bareng, Kang Adit. Kemudian saya ajak Abay. Kami awalnya hanya bertiga, kalau sekarang berlima," kata Papap.

Bermodalkan telepon genggam, GPT mengunjungi berbagai tempat angker. Mereka harus mendekat ke objek karena senter telepon genggam hanya bisa menerangi jarak dekat. Perasaan takut mereka buang jauh-jauh demi mendapat gambar setan atau penampakan.

Awalnya mereka hanya mengeksplorasi kawasan Bandung karena belum tidak memiliki uang transportasi, akomodasi dan konsumsi bila pergi ke tempat yang jauh. Babakan Siliwangi adalah salah satu tempat awal yang mereka kunjungi.

Setidaknya butuh uang Rp500 ribu untuk eksplor di kawasan Bandung. Dengan rincian Rp200-300 ribu untuk perizinan, Rp100 ribu untuk transportasi dan Rp100 ribu untuk konsumsi. Bila ke luar kota, mereka butuh biaya minimal Rp3 juta.

Ghost Panic Team, Berburu Setan demi Cuan [emb9]Ghost Panic Team kala bertemu CNNIndonesia.com. (Foto: CNN Indonesia/M Andika Putra)
Awalnya GPT hanya berhasil mendapat 2 ribu sampai 3 ribu penonton setiap kali live. Jumlah penonton bertambah pesat dalam waktu beberapa bulan, mereka bisa mendapat 5 ribu sampai 6 ribu penonton sekali live.

"Sebenarnya ada akun lain juga yang buat konten horor, penonton live mereka enggak sebanyak kami. Penonton kami dua kali lipat dari jumlah penonton standar," kata Papap.

Jumlah penonton sangat penting di Bigo Live karena uang bisa didapat dari penonton. Penonton bisa memberikan hadiah ke penyiar yang mereka tonton kemudian hadiah tersebut bisa dicairkan. Artinya semakin banyak penonton semakin untung alias cuan.

Penonton bisa memberikan hadiah dalam bentuk diamond dan beans. Menurut Papap, hadiah juga bisa diberikan dalam bentuk dragon. Satu diamond bernilai Rp232, nilai itu fluktuatif bergantung kurs USD. Diamond baru bisa ditukar menjadi uang bila sudah mencapai jumlah minimal 60 buah.

Kemudian satu beans bernilai Rp67 rupiah yang juga fluktuatif bergantung kurs USD. Beans baru bisa ditukar dengan uang bila sudah mencapai jumlah minimal 6700 buah. Sementara satu dragon bernilai Rp600 ribu yang bisa ditukar tanpa jumlah minimal.

Ghost Panic Team, Berburu Setan demi Cuan [emb9]Ghost Panic Team bisa meraup puluhan juta dari aksi live mengeksplorasi tempat-tempat yang dianggap angker oleh masyarakat. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Pada pertengahan sampai akhir tahun 2018 GPT bisa mendapat uang Rp26 juta setiap bulan. Sebanyak Rp6 juta dialokasikan untuk pengeluaran bersama seperti kontrak rumah Rp1,5 juta, listrik serta internet Rp1 juta, dan cicilan mobil Rp3,5 juta.

"Bersih kami dapat Rp20 juta dibagi lima. Ini belum termasuk endorse dan tantangan dari penonton Bigo. Kadang ada yang nantang potong alis, botakin kepala dan joget di depan mini market," kata Papap.

Ia melanjutkan, "Apa pun kita lakukan asal menghasilkan uang, walau bukan horor. Saya pernah ditantang botakin kepala dapat Rp20 juta. Saya lakuin dan dapat telepon genggam seharga Rp15 juta dan uang tunai Rp5 juta."

Sayang GPT tidak menghasilkan cuan terus menerus. Pada tiga bulan terakhir tahun 2018 ia mendapat kabar bahwa beans yang mereka dapatkan ternyata ilegal. Pada Oktober mereka disebut menerima 350 ribu beans ilegal, November mendapat 250 ribu beans ilegal dan Desember memperoleh 150 ribu beans ilegal.

Papap menjelaskan, beans ilegal adalah yang dibeli oleh pengguna Bigo Live lebih murah dari harga standar. Bahkan ada pengguna yang mendapatkan beans secara gratis bila bisa meretas. Sialnya, sebagai penerima beans, tidak ada cara mengetahui hadiah itu ilegal atau tidak.

Kala itu semua beans sudah dicairkan menjadi uang, bahkan sudah digunakan untuk kebutuhan masing-masing. Alhasil jumlah beans di akun GPT tertulis -800 ribu, saat itu satu beans berada pada nilai Rp60 sehingga mereka malah berutang Rp48 juta ke Bigo Live.

Utang itu mereka lunasi selama lima bulan dari Januari sampai Mei. Beans yang didapatkan selama eksplorasi tempat angker terpaksa digunakan hanya untuk membayar utang. Sejak itu kondisi GPT bagai telur di ujung tanduk.

"Jadi kebanyakan kalau sekarang ada yang memberikan tantangan, kamu minta ditransfer untuk menghindari beans ilegal. Misal kami meminta 1 dragon untuk menerima tantangan," kata Papap.

Ia kemudian meminta penontonnya berhenti memberikan beans ilegal. Namun sejak itu, penonton malah jadi jarang sekali memberi beans, meski jumlah penonton di setiap live masih berada di angka sekitar 5 ribu.

Kurang lebih selama empat bulan belakangan, GPT hanya mendapat sekitar Rp7,5 juta setiap bulan. Sebanyak Rp6 juta sudah pasti digunakan untuk kebutuhan bersama, sementara sisa Rp1,5 juta dibagi lima sehingga setiap orang mendapat Rp500 ribu.

Ghost Panic Team, Berburu Setan demi Cuan [emb9]Ilustrasi. Papap dari Ghost Panic Team mengaku sebenarnya takut menjalani aksi live eksplorasi tempat angker. Namun demi rupiah, ia rela melakukannya. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Kami sebenarnya takut melakukan ini, yang paling penakut gue, yang paling berani Kang Adit. Takut, tapi ini tuntutan pekerjaan, dengan kayak gini kami bisa dapat uang," kata Papap.

Dalam empat bulan belakangan GPT pernah melakukan satu kali live eksplorasi lokasi angker dengan fitur private room. Untuk memasuki private room setiap akun harus membayar Rp25 ribu. Kala itu aksi GPT ditonton 150 penonton, sehingga mendapat Rp3,75 juta.

Papap tidak ingin dianggap jadi komersil. GPT sudah mendapat beberapa komentar dari penonton setia tentang hal itu, sehingga ia tak lagi ingin memanfaatkan fitur private room. Kecuali, kelak jika kondisi memaksa. 

Ke depannya, Papap bertekad mempertahankan GPT meski sekarat. Mereka mengklaim sempat dapat tawaran dari Yome Live untuk membuat konten horor dengan gaji per bulan sebesar USD1.700 atau setara dengan Rp23 juta. Namun tawaran itu mereka tolak.

"Banyak teman-teman host (penyiar) bilang mereka enggak dibayar sama Yome. Selain itu ketika pindah aplikasi kan adaptasi dengan penonton baru. Jadi enggak semudah kami di Bigo," kata Papap.

Ia menambahkan, "Kami itu lagi berharap ada satu manajemen yang mau memodali kami. Siapa yang mau modali kami, ayo ambil alih Bigo Live dan YouTube kami. Penghasilan kami bagi rata." (adp/rea)




ARTIKEL TERKAIT