Forbes selaku sutradara empat episode pertama musim kedua The End of the F***ing World mengatakan bahwa sangat penting untuk menghadirkan sensasi bak di dunia lain karena serial itu diangkat dari novel grafis karya Charles Forsman.
"Serial ini berdasarkan novel grafis jadi harus ada perasaan seperti di dunia lain. Ini menjadi penting karena sangat romantis ketika kita tidak mengetahui di mana mereka berada. Seperti tak bisa menempatkan mereka," tutur Forbes kepada Digital Spy.
Dengan sentuhan tersebut, Forbes yakin dapat menyuguhkan tayangan bersensasi fantasi meski penampilan para aktor sangat natural.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dalam penggarapannya, Forbes dihadapkan dengan tantangan untuk tetap mempertahankan karakteristik The End of the F***ing World yang menuai pujian pada musim pertamanya.
Forbes akhirnya menemukan formula untuk musim kedua ini, yaitu dengan membedah semua referensi debut The End of the F***ing World.
"Saya bongkar semua referensi yang menginspirasi musim pertama, menghabiskan banyak waktu untuk membedahnya, apa dan dari mana mereka berasal. Dengan demikian, saya dapat mengambil yang saya inginkan untuk membawanya ke musim kedua," katanya.
[Gambas:Video CNN]
The End of the F***ing World sendiri berkisah mengenai petualangan dua remaja, James (Alex Lawther) dan Alyssa (Jessica Barden), yang bosan dengan keseharian mereka.
Berawal dari keisengan belaka, perjalanan mereka kemudian diwarnai dengan berbagai peristiwa menegangkan, mulai dari upaya pemerkosaan hingga pembunuhan.
Debut serial ini mendulang respons positif sampai-sampai mendapatkan nominasi Best Drama Series dari British Academy Television Awards, dan Primetime Emmy Awards kategori Outstanding Cinematography for a Single-Camera Series (Half-Hour). (has)