Maestro Lukis 'Mata Hitam' Jeihan Sukmantoro Meninggal Dunia

CNN Indonesia | Jumat, 29/11/2019 21:33 WIB
Maestro Lukis 'Mata Hitam' Jeihan Sukmantoro Meninggal Dunia Maestro lukis Jeihan Sukmantoro meninggal dunia pada Jumat (29/11). (Dok. Detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia seni rupa Indonesia tengah berduka karena kehilangan sosok perupa senior Jeihan Sukmantoro. Maestro lukis ini wafat dalam usia 81 tahun.

Jeihan, wafat pada pukul 18.15 WIB di studionya yang berada di Jalan Padasuka, Kecamatan Cimenyan, Kota Bandung, Jumat (29/11).

Berita tentang meninggalnya perupa Jeihan dibenarkan kerabat sekaligus Rois'Am Majelis Sastra Bandung, Matdon.


"Innillahi wainnailahi raojium maestro lukis jeihan sukmantoro wafat jam 18.15 di studionya jalan padasuka 147 Bandung," tulis Matdon dalam pesan elektronik yang diterima CNNIndonesia.com.

Sebelumnya, Jeihan sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung. Namun, sejak Rabu (27/11), Jeihan sudah dipulangkan setelah karena perawatan sudah tidak berjalan efektif.

"Dari dua hari yang lalu bapak sudah seperti yang tidak ada kesadaran. Tubuhnya sudah menolak infus, sudah sulit untuk menerima pertolongan medis. Asupan makan juga sulit," kata putra sulung Jeihan, Atasi Amin.

"Beliau akhirnya meminta pulang ke studio dan kami akhirnya pulang hari Rabu. Memang dari sebulan terakhir almarhum ingin terus di studio," sambung Atasi.

Selama berada di studio, kata Atasi, sang ayah terus mendapatkan perawatan dari dokter dan perawat.

Berdasarkan keterangan Atasi, Jeihan mengidap kanker kelenjar getah bening. Penyakit ini telah terdeteksi sejak 2016 lalu dan telah menyebar ke bagian-bagian tubuh lainnya.

Jeihan pergi selamanya dengan meninggalkan enam anak, empat laki-laki dan dua perempuan, serta sebelas cucu. Pemakaman sang maestro dikabarkan akan dihadiri oleh para seniman senior di Indonesia.

Rencananya, Jeihan akan dimakamkam pada Sabtu (30/11) di sebuah pendopo tak jauh dari rumahnya.

Jeihan dikenal dengan karya lukis ekspresionis dan figuratif sejak tahun 1960-an. Sorot mata hitam menjadi salah satu ciri khas paling menonjol dari setiap karyanya.

Pada April lalu, Museum MACAN menampilkan karya seniman kelahiran Solo, 26 September 1938 itu dalam sebuah pameran berjudul Jeihan: Hari-hari di Cicadas.

Pameran menampilkan karya-karya Jeihan yang disampaikan dengan menawarkan perspektif baru tentang era yang penting dalam kekaryaan sang perupa mulai 1960an hingga 1980an, ketika ia tinggal di Cicadas.

Lukisan potret dalam pameran itu menampilkan sang perupa, anggota keluarga dan tetangga-tetangga Jeihan, ketika rumahnya berfungsi sebagai tempat komunal tempat berkumpulnya warga yang ingin menonton TV. Kala itu, rumah Jeihan adalah salah satu yang pertama memiliki TV.

Jeihan juga mendirikan studio Seni Rupa Bandung pada 1978, yang menjadi tempat pengembangan kreativitas kaum muda untuk berkreasi dan mandiri.

Dalam hal penghargaan, Jeihan pernah mendapatkan Perintis Seni Rupa Jawa Barat 2006 dan Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2009. (hyg/asr)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA