Vokalis L'Alphalpha, Herald Reynaldo, menjelaskan bahwa Batas dibuat berdasarkan pengalaman personal. Lagu itu bercerita tentang perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Namun perubahan itu justru menyadarkan bahwa sebenarnya ia sendiri yang belum berubah. Batas merupakan bentuk pencarian jati diri dan dorongan untuk dirinya sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisa dibilang Batas sangat berbeda dengan karya yang pernah L'Alphalpha rilis sebelumnya. Bila biasanya lagu-lagu L'Alphalpha terasa bernuansa post-rock, kali ini Batas menawarkan rasa indie rock.
Perubahan nuansa lagu tidak lepas dari kehadiran dua personel baru yang mengubah proses kreatif L'Alphalpha. Meraka adalah Dimas Wisnuwardhono sebagai gitaris dan Yudhistira Haryadi sebagai drummer.
"Dengan berubahnya format anggota grup kami, terjadi penyesuaian proses kreatif dalam segi musik. Batas adalah lagu perdana yang melibatkan dua anggota baru kami," kata Yudishtira Mahendra yang berperan sebagai basis.
L'Alphalpha tidak benar-benar sendirian menggarap Batas. Mereka menggandeng personel band noise rock Sirati Dharma, Pandji Dharma, untuk menjadi co-produser.
Panji dinilai bisa melengkapi lagu baru L'Alphalpha yang bernuansa indie rock. Suara gitar yang dominan pada Batas pun tidak lepas dari Panji.
L'Alphalpha merupakan band yang terbentuk pada 2006 di Jakarta. Sepanjang karier bermusik, mereka telah merilis album bertajuk When We Awake All Dreams Are Gone (2011) dan Von Stufe Zu Stufe (2013) serta merilis dua single bertajuk Tualang (2016) dan Pulang, Kembali (2017).
[Gambas:Video CNN] (adp/rea)