Dewas lantas membentuk Panitia Seleksi (Pansel) Dirut Baru, seperti yang tertuang dalam Nota Dinas Plt.Dirut TVRI yang dikeluarkan pada 30 Januari 2020. Dari nota itu kemudian terungkap bahwa manajemen TVRI tidak memperpanjang kontrak dua anggota Pansel, Peri Umar Farouk dan Singgih Budihartono, sehingga keduanya tak lagi terdaftar sebagai tenaga ahli Dewas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bayangkan saja, orang yang tidak lagi terdaftar sebagai tenaga ahli Dewas malah dilibatkan dalam proses Pansel Dirut definitif TVRI, bagaimana akibat hukumnya terhadap proses ini?"
Ruang Dewas kala disegel menyusul pemecatan Helmy Yahya selaku Dirut TVRI pada Januari silam. (Foto: CNN Indonesia/ Dhio Faiz) |
Ia mengingatkan, dalam rapat dengar pendapat antara Komisi I dengan Dewas LPP TVRI, anggota Komisi I Fraksi PDIP Effendy Simbolon menyarankan Dewas agar mengaktifkan kembali Helmy Yahya di kursi Dirut, sehingga urusan administratif karyawan dapat segera ditangani. Sejauh ini, Dewas tidak memberi tanggapan terhadap usulan tersebut.
Helmy Yahya sendiri mengaku sudah tak berpikir untuk kembali jadi Dirut TVRI. Menurutnya, persoalan yang ia alami selama menduduki jabatan itu sudah sangat berat.
Sebelumnya, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi II DPR pada Selasa (21/1), Ketua Dewas Arief Hidayat menyebut ada sejumlah alasan pemecatan Helmy Yahya. Salah satunya, karena enam kali keterlambatan pembayaran honor sistem kerabat kerja (SKK) karyawan sejak Desember 2018. Keterlambatan itu direspons karyawan dengan pemogokan siaran pada 10 Januari 2019.
Di sisi lain, karyawan juga bereaksi usai Helmy dinonaktifkan. Pada Januari 2020, ruangan Dewas disegel, diduga dilakukan oleh karyawan TVRI. Kemudian mereka juga menutup beberapa bagian gedung TVRI dengan kain hitam.
"Kain hitam kelam adalah simbol keprihatinan mendalam atas tercabutnya masa depan dan kejayaan TVRI," ucap Agil Samal, Senin (20/1).
[Gambas:Video CNN] (rea)
Ruang Dewas kala disegel menyusul pemecatan Helmy Yahya selaku Dirut TVRI pada Januari silam. (Foto: CNN Indonesia/ Dhio Faiz)