Ia meraih popularitas dengan mudah, menyusul kolaborasi bareng Calvin Harris dalam One Kiss (2018). Dari situ saja dia sudah mendapat Brit Award di kategori Song of the Year, ditambah duet bersama Silk City di Electricity yang juga meraih sukses di Grammy Award 2019.
Ketika Dua Lipa mengumumkan sedang menggarap album kedua, serta menyebut nama Giorgio Moroder dan Nile Rodgers, segalanya jadi lebih menarik. Moroder adalah nama lama dalam dunia musik dansa, ia bahkan disebut Father of Disco. Daft Punk punya tribute terhadap pria 79 tahun itu dalam album Random Access Memories, track Giorgio by Moroder di mana ia sendiri menarasikan kehidupannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Youtube]
Dua Lipa jelas terlibat penuh dalam album kedua ini. Ia menulis lirik untuk kesebelas lagu, dan sempat melontarkan pujian kepada produser peraih Grammy, Jeff Bhasker di lagu pertama, Future Nostalgia. Don't Start Now dan Physical sendiri segera menjadi anthem lantai dansa, bukan hal baru bagi Lipa.
Levitating punya kesan centil dan meriah. Pretty Please lebih bernuansa gelap, meski sebenarnya berkonten seksual. Lipa banyak bicara soal gairah, seperti juga keberaniannya menyuarakan hal lain, misalnya dalam Love Again ketika ia memutuskan kembali membuka diri setelah mengalami kekecewaan. Di sini, ia tampil bukan sebagai korban, justru sebaliknya.
[Gambas:Youtube]
Boys Will Be Boys yang menutup Future Nostalgia mengungkap semangat feminisme Lipa. "Sick intuition that they taught us, so we won't freak out. We hide our figures, doing anything to shut their mouths. We smile away to ease the tension so it don't go south, but there's nothing funny now," lantunnya.
Future Nostalgia terasa seperti album yang akan dibuat oleh Madonna atau Kylie Minogue di era mereka masing-masing. Album ini bersemangat, menyenangkan, menunjukkan kedewasaan yang bebas, sekaligus membersitkan ambisi Lipa. Dengan bangga ia tampil bukan sebagai idola pop yang mengikuti arus industri, melainkan penyanyi yang tahu apa yang diinginkan. (rea)