Bad Genius bukan hanya menawarkan sensasi thriller sempurna tanpa harus ada pembunuh, slasher, atau hantu, melainkan turut mengisahkan kompleksitas dan kebobrokan sistem pendidikan yang pernah jadi pengalaman sebagian orang.
Bad Genius mengisahkan sekelompok anak sekolah yang berusaha memanipulasi sistem seleksi penerimaan mahasiswa ke perguruan tinggi Amerika Serikat yang dikenal sebagai SAT, atau dalam film ini dinamakan STIC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedekatan dengan Grace yang cantik, ramah, tapi bodoh, membawa peluang lebih besar bagi Lynn ketimbang sekadar mengejar nilai yang amat mudah ia dapatkan. (dok. GDH 559/Cine Asia Films via IMDb) |
Bersama Grace dan pacarnya yang kaya dan bodoh pula, Pat, Lynn menjalankan operasi sistem menyontek massal, dan diikuti banyak murid di sekolah itu serta menghasilkan banyak uang karenanya.
Bank dan Lynn ibarat saudara kembar beda jenis kelamin dan karakter. Mereka sama-sama anak genius dari keluarga menengah bawah yang 'terjebak' di sekolah elit nan unggulan, diasuh oleh orang tua tunggal, dan memiliki rasa tanggung jawab atas kondisi keluarga.
Namun Bank dan Lynn amat berbeda memandang bisnis sontek-menyontek ini. Lynn cenderung pragmatis dan pekerjaan-sampingan sebagai joki ujian adalah peluang yang bagus. Sedangkan Bank, ia amat memegang prinsip untuk tidak menyontek.
Menurut review Bad Genius, Bank amat memegang prinsip untuk tidak menyontek. (dok. GDH 559/Cine Asia Films via IMDb) |
Dua karakter tersebut kemudian disatukan dalam satu proyek 'haram' membobol sistem pengawasan ujian internasional STIC melalui pembangunan cerita, karakter, konflik, dan latar yang brilian dari film Bad Genius.
Digarap oleh sutradara Nattawut Poonpiriya, dan dibantu penulisannya oleh Tanida Hantaweewatana dan Vasudhorn Piyaromna, Bad Genius memang sedikit banyak mengingatkan akan film pembobolan sistem keamanan ala Hollywood. Sebut saja seri Ocean's dan saga Now You See Me.
Suka tidak suka, menyontek merupakan hal yang salah namun lazim ditemukan dalam sistem pendidikan. Ibarat tikus dan kucing, beragam cara dilakukan para murid selama bergenerasi untuk mengakali macam-macam kebijakan pengetatan dan pencegahan kecurangan ini.
Bad Genius, jujur saja, menggambarkan kegilaan menyontek yang belum pernah terbayang sebelumnya. Meski bukan untuk ditiru, namun kreativitas cerita itulah yang membuat film ini amat menegangkan dan menarik.
Film ini pula mampu membawa penonton ikut dalam ketegangan, kala berusaha untuk tidak ketahuan pengawas saat menyontek.
Cukup dengan cara menyontek. Hal lain yang membuat saya menyesal tak menyaksikan film ini langsung di bioskop tiga tahun lalu adalah cara Bad Genius mengkritik sistem pendidikan di Thailand. Uniknya, situasinya tak jauh berbeda ada di Indonesia.
Siswa dalam sistem pendidikan -yang sebagian masih berjalan hingga kini- dituntut dan dihakimi capaian pendidikannya selama bertahun-tahun hanya berdasarkan beberapa jam ujian berisi puluhan hingga ratusan soal.
Bersama Grace dan pacarnya yang kaya dan bodoh pula, Pat, Lynn menjalankan operasi sistem menyontek massal. (dok. GDH 559/Cine Asia Films via IMDb) |
Belum lagi soal status sekolah 'unggulan' yang secara tersirat juga jadi bahan sindiran Bad Genius. Banyak sekolah yang menyandang 'unggulan' memiliki sistem pembiayaan operasional di luar kesanggupan keluarga anak didik.
Salah satunya disinggung ketika Lynn mendapatkan hukuman karena terbukti mendapatkan bayaran untuk mengisi jawaban Ujian Nasional temannya. Ia disemprot Kepala Sekolah bahwa sekolah bukan tempat mencari uang.
"Saya bukan satu-satunya yang membuat sekolah menjadi tempat mencari uang," kata Lynn. "Uang pelicin yang harus ayah saya bayar ke sekolah ini juga,"
"Itu bukan pelicin. Itu uang gedung," kata Kepala Sekolah.
Belum lagi soal perbedaan kasta sosial di antara pergaulan anak-anak sekolah. Akan selalu ada anak malas dengan kemampuan lebih yang bisa 'membeli' jawaban dari anak pintar dari keluarga pas-pasan, baik dengan materi maupun status 'teman'.
Review Bad Genius menyebut film ini bukan hanya menawarkan sensasi thriller sempurna, tapi turut kompleksitas dan kebobrokan dari sistem pendidikan. (dok. GDH 559/Cine Asia Films via IMDb) |
Bukan hanya itu, penulis Bad Genius juga mengatur alur thriller dengan cermat sehingga membuat penonton yang semula mungkin terganggu dengan keterbatasan bahasa, bisa ikut merasakan ketegangan di dalamnya.
Untuk para empat pemain karakter utama, Chutimon Chuengcharoensukying alias Aokbab sebagai Lynn, Chanon Santinatornkul sebagai Bank, Teeradon Supapunpinyo sebagai Pat and Eisaya Hosuwan sebagai Grace, mereka patut mendapatkan pujian.
Apalagi, keempatnya tergolong pendatang baru ketika mulai terlibat dalam Bad Genius. Mereka bermain dengan cerdas di bawah arahan Poonpiriya, dan jelas terlihat menjiwai karakter masing-masing.
Pada akhirnya, Bad Genius yang terinspirasi dari kasus nyata ini layak mendapatkan perhatian khusus. Film yang kini tayang di layanan streaming Netflix ini juga menggambarkan industri film Thailand yang berkembang pesat, dibanding kenangan saya dengan film First Love (2010).
[Gambas:Youtube]
(end)
Kedekatan dengan Grace yang cantik, ramah, tapi bodoh, membawa peluang lebih besar bagi Lynn ketimbang sekadar mengejar nilai yang amat mudah ia dapatkan. (dok. GDH 559/Cine Asia Films via IMDb)
Menurut review Bad Genius, Bank amat memegang prinsip untuk tidak menyontek. (dok. GDH 559/Cine Asia Films via IMDb)
Bersama Grace dan pacarnya yang kaya dan bodoh pula, Pat, Lynn menjalankan operasi sistem menyontek massal. (dok. GDH 559/Cine Asia Films via IMDb)
Review Bad Genius menyebut film ini bukan hanya menawarkan sensasi thriller sempurna, tapi turut kompleksitas dan kebobrokan dari sistem pendidikan. (dok. GDH 559/Cine Asia Films via IMDb)